Catatan Dahlan Iskan

Agus Mustofa

Bagikan
Agus Mustofa
Bagikan

Suatu saat saya mendengar Agus ingin menulis tafsir Quran. Lalu saya menemuinya. Saya tahu ia tidak pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Meski tidak wajib tapi itu bisa dianggap kelemahan. Saya tidak mau Agus dikritik orang di soal yang tidak substantif: tidak pernah mendalami Islam di Timur Tengah.

Maka saya anjurkan Agus untuk ke Timur Tengah. Ia menerima saran saya itu. Ia pergi ke Mesir. Ia tinggal di sana meski tidak lama.

Saya ingat Nurcholish Madjid. Begitu hebat pemikiran pembaharuannya dalam Islam. Tapi ada saja yang tidak bisa menerima hanya karena ia tidak bisa membaca kitab kuning –buku-buku klasik yang ditulis dengan huruf Arab tanpa tanda baca.

Akhirnya Agus mulai menulis tafsir Quran. Rupanya ia sudah merasa buku tafsirnya itu akan dipersoalkan. Maka Agus menulis kata pengantar di buku tafsir itu sangat panjang. Yakni di awal buku tafsir juz 1.

Di situ ia menjelaskan perjalanan ilmu tafsir dari masa ke masa. Mulai munculnya kitab tafsir pertama di dunia. Yakni di abad ke-8 –200 tahun setelah Nabi Muhammad meninggal. Anda sudah tahu nama kitab tafsir itu: Tafsir Al Kabir. Penulisnya orang Parsi: Muqatil bin Sulaiman. Pendekatannya: bahasa.

Agus terus menguraikan lahirnya kitab-kitab tafsir terkemuka berikutnya. Sampai ke Tafsir Jalalain –ditulis dua orang bernama Jalal. Semua tafsir itu menggunakan pendekatan yang berbeda. Termasuk ada yang berdasar latar belakang lahirnya satu ayat di dalam Quran.

Yang belum ada: tafsir berdasarkan pendekatan zaman modern. Ia beralasan betapa zaman sudah berubah. Betapa kebutuhan masyarakat sudah sangat berbeda. Betapa generasi millennial perlu tafsir yang bisa menjawab zaman mereka.

Maka Agus tergerak untuk menulis tafsir dengan pendekatan baru: Ulul Albab. Itulah nama karyanya itu: Tafsir Ulul Albab.

Sudah tiga jilid ia selesaikan: juz 1, juz 2, dan juz 3. “Jilid empatnya sudah selesai ditulis. Tapi belum sempat diterbitkan. Masih di dalam komputer beliau,” ujar Dina.

Ia sudah menerbitkan lebih 60 buku tasawuf modern. Lalu menerbitkan tafsir modern.

Bagikan
Written by
Ari Nur Cahyo

Penulis di FIN Corp sejak Maret 2022 yang fokus mengeksplorasi dunia Teknologi, Sepak Bola, dan Anime. Memiliki ketertarikan kuat pada isu-isu viral, ia berkomitmen menghadirkan konten yang segar, informatif, dan relevan dengan tren masa kini.

Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Dor! Dor!

Prabowo juga heran: dengan tumbuh 5 persen setiap tahun, selama tujuh tahun,...

Catatan Dahlan Iskan

Rujak Ambon

  Saya menyesal membeli tiket termahal. Kabin untuk kelas terbaik ini ternyata...

Catatan Dahlan Iskan

Kenari Tua

  Sepasang sumur tua hanya saya lihat sesapuan. Pun pohon sejuta umat....

Catatan Dahlan Iskan

Rumah Pala

  Kami terus memasuki kebun pala lebih ke dalam. Ini lagi musim...