Alternatif Energi: Etanol, DME, hingga Mikroalga
Tidak hanya biodiesel, berbagai sumber energi alternatif mulai didorong untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Pengembangan etanol dari bahan hayati seperti sorgum dan ketela dinilai dapat menjadi pengganti bensin.
Selain itu, pemerintah juga didorong mengembangkan Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG), terutama saat harga gas mengalami lonjakan akibat gangguan rantai pasok global.
“Ketika harga gas naik karena rantai pasoknya terganggu, dikembangkanlah energi terbarukan. Permasalahan ini menjadi momentum kebangkitan energi, kebangkitan riset perguruan tinggi di bidang energi,” tekan Deen.
Untuk sektor lain, seperti kelistrikan dan pertanian, penggunaan energi terbarukan juga semakin relevan. El Nino berpotensi mengganggu operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) serta meningkatkan kebutuhan solar untuk pompa air di sektor pertanian.
Sebagai solusi, Deendarlianto menyebut beberapa alternatif seperti mikroalga, biodiesel, hingga energi surya sebagai pengganti solar.
“Beberapa sumber energi terbarukan yang bisa digunakan untuk menggantikan solar yaitu penggunaan mikroalga, biodiesel, hingga penggunaan energi surya,” sebutnya.
Perencanaan Energi Nasional Harus Konsisten
Lebih jauh, ia menegaskan pentingnya perencanaan energi yang matang melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Pemerintah perlu memastikan implementasi kebijakan berjalan konsisten sekaligus mendorong pertumbuhan industri energi dalam negeri.
Menurutnya, pengembangan energi nasional tidak hanya fokus pada energi terbarukan, tetapi juga harus memperkuat industri energi secara keseluruhan, baik fosil maupun non-fosil.
“Kalau industrinya tumbuh dan berasal dari dalam negeri, akan membuat ekonomi negara berputar lebih cepat. Namun, jangan sampai memiliki kebijakan energi nasional tetapi tetap mendorong impor,” tambahnya.