Analisis Militer: Prioritas Pilot adalah Bertahan
Militer AS sebelumnya juga melaporkan kehilangan beberapa pesawat selama operasi di Iran. Insiden tersebut mencakup pesawat tanker yang jatuh di Irak serta tiga F-15 yang ditembak jatuh oleh tembakan ramah Kuwait.
Pensiunan brigadir jenderal AS Houston Cantwell menjelaskan bahwa pelatihan pilot tempur sangat menentukan dalam situasi seperti ini. Ia mengatakan:
“Prioritas saya, pertama-tama, adalah penyembunyian, karena saya tidak ingin ditangkap,” katanya kepada AFP.
Iran Sindir Pemerintahan Trump
Ketua parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, menyindir keras pemerintah AS melalui media sosial X. Ia menulis:
“Setelah mengalahkan Iran 37 kali berturut-turut, perang tanpa strategi yang brilian yang mereka mulai ini sekarang telah diturunkan dari ‘perubahan rezim’ menjadi ‘Hei! Bisakah seseorang menemukan pilot kami? Tolong?”
Ia melanjutkan dengan nada sarkastik:
“Wow. Kemajuan yang luar biasa.” “Jenius sejati.”
Serangan Baru dan Ancaman Energi Global
Ketegangan terus meningkat dengan munculnya serangan baru yang menargetkan Israel, Iran, dan Lebanon. Pada Sabtu, beberapa ledakan terdengar di wilayah utara Teheran, menurut jurnalis AFP.
Serangan kini semakin mengarah ke fasilitas ekonomi dan industri. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan gangguan besar terhadap pasokan energi global.
Di wilayah barat Teheran, serangan AS menghantam area sekitar jembatan yang menyebabkan kerusakan pada vila dan bangunan tempat tinggal. Meski demikian, tidak ditemukan instalasi militer di lokasi tersebut.
Menurut yayasan martir provinsi Alborz yang dikutip IRNA, serangan itu menewaskan 13 warga sipil dan melukai puluhan lainnya.
Selat Hormuz dan Risiko Krisis Energi
Mantan menteri luar negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, menilai bahwa Iran perlu membuka jalan diplomasi dengan AS untuk mengakhiri konflik. Dalam jurnal Foreign Affairs, ia menyarankan agar Iran membatasi program nuklirnya dan membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan pencabutan sanksi.
Sejak perang dimulai, Iran praktis telah memblokir jalur strategis tersebut. Padahal, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia biasanya melewati Selat Hormuz.