Made Ariani Siswanto, Managing Director Nyanyi Bali, mengatakan, “Bagi kami, Nyanyi bukan sekadar sebidang lahan, melainkan warisan. Kami berkomitmen agar setiap generasi mewarisi tanah dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam visi kami, lahan ini harus mencerminkan keindahan budaya dan warisan lokal. Karena itu, kami meluncurkan program edukasi kuliner sejak beberapa tahun lalu, dengan keyakinan bahwa pengetahuan dan rasa hormat terhadap alam adalah fondasi dari gastronomi yang unggul.”
“Kami bangga dapat bekerja sama dengan mitra yang memiliki visi sejalan dan membawa keahlian berharga untuk mendorong inisiatif ini ke tahap berikutnya. Kolaborasi ini terjalin berkat komitmen bersama terhadap keberlanjutan, edukasi, dan eksplorasi kreatif, sekaligus menyoroti produk endemik Indonesia yang selama ini belum mendapatkan pengakuan lokal sebagaimana mestinya,” tambah Ariani.
Warisan panjang Valrhona dalam pengolahan cokelat dan praktik pengadaan bahan yang bertanggung jawab sejalan dengan misi Nyanyi Bali untuk mengembangkan Nyanyi sebagai destinasi pariwisata gastronomi. Kolaborasi ini diarahkan untuk mendorong lahirnya talenta dan inovasi kuliner, sekaligus menghidupkan kembali lahan melalui pendekatan berkelanjutan serta pendidikan berbasis pengalaman.
Emmanuelle Brun, Head of Strategic Growth & New Ventures, Valrhona, menyampaikan “inisiatif ini diharapkan dapat mendorong cokelat naik ke tingkat yang sama seperti kopi di Bali, yang kini tidak lagi sekadar diminum, tetapi dinikmati, dipelajari, dan diapresiasi asal-usulnya. Ia menegaskan bahwa cokelat adalah produk yang menuntut ketelitian di setiap proses, mulai dari pemilihan biji kakao terbaik hingga tahapan produksi yang panjang dan presisi. Melalui pusat pembelajaran berbasis pengalaman ini, Valrhona berharap dapat memperkuat seluruh rantai nilai kakao sekaligus melibatkan berbagai pihak, mulai dari konsumen, chef, hingga petani, untuk bersama-sama membangun industri kakao lokal yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Emmanuelle.