Home News Kemenkes Beri Atensi Risiko Gigitan Ular di Wilayah Baduy, Siapkan Antibisa
News

Kemenkes Beri Atensi Risiko Gigitan Ular di Wilayah Baduy, Siapkan Antibisa

Bagikan
Bagikan

finnews.id – Salah satu fokus perhatian dalam kunjungan kerja Sekretaris Jenderal Kemenkes, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, ke kawasan Baduy, Selasa, 31 Desember 2025, adalah risiko gigitan ular.

Menurutnya, kebutuhan antibisa ular atau antivenom menjadi perhatian, mengingat sebagian besar masyarakat Baduy beraktivitas sebagai petani di ladang dan kawasan hutan.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa pemberian antibisa harus dilakukan sesuai prosedur medis.

Kunta menjelaskan, bahwa antibisa ular tidak disimpan dalam jumlah besar di wilayah Baduy, melainkan ditempatkan di puskesmas rujukan yang memiliki tenaga kesehatan dengan kompetensi khusus dalam penanganan kasus gigitan ular.

“Kalau anti bisa kan tidak bisa sembarangan ya. Itu harus dicek dengan cukup. Antibisa sudah tersedia di puskesmas, tapi memang tidak banyak,” jelasnya.

Penanganan Pertama Pasien Gigitan Ular Berbisa

Apabila terjadi kasus gigitan ular, Kunta menyebut penanganan awal dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran racun sebelum pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan. Puskesmas akan melakukan koordinasi untuk memastikan penanganan lanjutan dapat segera diberikan.

“Minimal diikat dulu supaya tidak menyebar. Nanti puskesmas akan datang memberikan penanganan,” katanya.

Kunta mengakui jarak puskesmas rujukan yang menyediakan antibisa dari wilayah Baduy mencapai sekitar satu setengah jam perjalanan. Meski demikian, Kemenkes memastikan koordinasi tetap berjalan agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.

Di sisi lain, masyarakat Baduy menilai ketersediaan antibisa masih menjadi kebutuhan penting. Warga Desa Cihuni, Baduy Luar, Narja, menyampaikan bahwa antibisa ular merupakan salah satu kebutuhan utama masyarakat, mengingat tingginya risiko gigitan saat bekerja di ladang.

Menurutnya, antibisa tidak diminta untuk disediakan secara berlebihan, melainkan sebagai langkah antisipasi dalam kondisi darurat. Ia juga menyebut keterbatasan obat tersebut kerap menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan di lapangan.

“Bukan nyediain, tapi buat jaga antisipasi saja. Masalah obat bisa itu, Pak Kapus juga sering nangis, soalnya susah, nggak ada,” tuturnya.

Bagikan
Artikel Terkait
Beasiswa
News

Ingin Kuliah Gratis S1 Tahun 2026? Ini 7 Beasiswa Pemerintah yang Wajib Kamu Pantau

finnews.id – Tak punya biaya bukan alasan untuk mengubur mimpi kuliah. Jika...

News

Penemuan Bukti Peristiwa Keracunan di Kontrakan Warakas, Tanjung Priok

finnews.id – Polres Metro Jakarta Utara menemukan botol minuman dan bungkus makanan...

Aksi Pengibaran Bendera GAM
News

JK Buka Suara soal Pengibaran Bendera GAM di Aceh: Langgar Perdamaian

finnews.id – Isu pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kembali menyita perhatian...

News

Fakta Mazda CX-5 yang Kabur hingga Terserempet Kereta di Jakarta Barat

finnews.id – Polres Metro Jakarta Barat mengungkap fakta yang sebenarnya tentang Mobil...