Home News Hanya Tersisa 2.000 Liter! Petani Inggris Terancam Lumpuh Akibat Pembatasan Solar, Ketahanan Pangan di Ujung Tanduk?
News

Hanya Tersisa 2.000 Liter! Petani Inggris Terancam Lumpuh Akibat Pembatasan Solar, Ketahanan Pangan di Ujung Tanduk?

Bagikan
Hanya Tersisa 2.000 Liter! Petani Inggris Terancam Lumpuh Akibat Pembatasan Solar, Ketahanan Pangan di Ujung Tanduk?
Ilustrasi minyak bumi
Bagikan

finnews.id – Sektor pertanian Inggris kini tengah menghadapi guncangan hebat yang berpotensi melumpuhkan produktivitas pangan mereka. Sejumlah pedagang grosir bahan bakar minyak (BBM) mulai mengambil langkah ekstrem dengan membatasi penjualan solar kepada para petani. Kebijakan ini muncul sebagai respons langsung atas ketidakpastian pasokan dan lonjakan harga yang kian tak terkendali di pasar internasional.

Kabar mengenai pembatasan ini mulai menyebar luas setelah laporan dari industri mengungkapkan adanya pemangkasan volume pesanan secara drastis di berbagai wilayah. Situasi ini tentu menjadi sinyal bahaya bagi para pelaku usaha tani yang sangat bergantung pada bahan bakar untuk mengoperasikan mesin-mesin berat mereka. Jika kondisi ini terus berlanjut, bayang-bayang kegagalan panen dan krisis logistik pangan menjadi ancaman nyata yang harus segera diantisipasi.

Pemangkasan Pesanan Hingga 80 Persen di Wilayah Strategis

Pengecer bahan bakar di Inggris tidak lagi melayani pesanan dalam jumlah besar demi menjaga pemerataan stok. Manajer Pengadaan Bahan Bakar Anglia Farmers, Patrick Crehan, mengungkapkan bahwa volume pesanan mengalami pemangkasan yang sangat signifikan. Petani yang biasanya mampu memesan hingga 10.000 liter solar kini hanya mendapatkan jatah sekitar 2.000 liter saja dari pihak distributor.

Pembatasan ketat ini sejauh ini telah memberikan dampak langsung di wilayah Skotlandia dan Essex, sebuah area vital di timur London. Bahkan, laporan dari lapangan menunjukkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan di Skotlandia. Beberapa pengecer di sana dikabarkan hanya bersedia menjual maksimal 500 liter solar untuk setiap pelanggan. Angka ini tentu jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional lahan pertanian skala luas.

“Pengecer bahan bakar mengurangi volume pesanan untuk memenuhi sebanyak mungkin permintaan, dari sebelumnya 10.000 liter per petani menjadi sekitar 2.000 liter,” tutur Patrick Crehan dalam keterangannya sebagaimana dikutip dari laporan Telegraph pada Selasa (24/3/2026).

Dampak Eskalasi Global: Harga Solar Meroket 17 Persen

Krisis bahan bakar ini tidak terjadi di ruang hampa. Lonjakan harga komoditas energi dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik global, terutama eskalasi konflik yang melibatkan Iran. Menurut data dari RAC, salah satu perusahaan layanan otomotif terbesar di Inggris, harga solar telah melonjak sebesar 17 persen sejak ketegangan tersebut memuncak. Sebagai perbandingan, harga bensin juga mengalami kenaikan sebesar 9 persen dalam periode yang sama.

Bagikan
Written by
Sigit Nugroho

Sigit Nugroho adalah Jurnalis ekonomi bisnis yang sudah malang melintang di berbagai platform media, mulai dari TV, koran, majalah hingga media siber. Saat ini merupakan pemimpin redaksi di jaringan FIN Media Group

Artikel Terkait
Larangan mengajar 2027 ditakutkan memicu krisis guru besar-besaran. Kebijakan ini terasa seperti "vonis mati" bagi karier guru honorer.
NasionalNews

Peringatan Keras! Larangan Mengajar Guru Honorer Berlaku 2027, DPRD Jatim Teriak

Finnews.id – Jakarta – Kabut tebal mulai membuat masa depan jutaan tenaga...

BareskrimPolri berhasil menahan sebanyak 321 pelaku sindikat Judi Online (Judol) di Gedung Perkantoran di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat (Jakbar).
NasionalNews

321 Pelaku Sindikat Judol Hayam Wuruk Tertangkap, Markas Bergeser

Finnews.id – Jakarta – BareskrimPolri berhasil menahan sebanyak 321 pelaku sindikat Judi...

ilustrasi
News

3 Pendaki Hilang Usai Erupsi Gunung Dukono

finnews.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa tim SAR gabungan...

News

AS dan Iran Saling Tuding Usai Bentrokan di Selat Hormuz

finnews.id – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah kedua...