Home Lifestyle WASPADA! Super Flu Merebak di Sejumlah Negara
Lifestyle

WASPADA! Super Flu Merebak di Sejumlah Negara

Bagikan
Super Flu
Ilustrasi virus Super Flu (iStock)
Bagikan

finnews.id – Lonjakan kasus influenza di berbagai negara akibat kemunculan varian baru influenza A (H3N2) subclade K belakangan memicu kekhawatiran publik. Istilah “super flu” pun ramai diperbincangkan, bahkan disebut-sebut berpotensi menjadi pandemi baru setelah COVID-19.

Namun, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menilai situasi saat ini masih jauh dari kategori pandemi.

“Kalau melihat perkembangan yang ada sekarang, super flu ini lebih mengarah pada gelombang flu musiman yang lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jadi belum, atau setidaknya belum mengarah ke pandemi,” ujar Prof Tjandra dalam keterangannya, Kamis (1/1/2026).

Menurutnya, penilaian suatu penyakit bisa menjadi pandemi tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Ada sejumlah indikator penting yang harus terpenuhi secara bersamaan.

Prof Tjandra menjelaskan, setidaknya ada tiga faktor utama yang menentukan apakah super flu berpotensi berkembang menjadi pandemi global, seperti yang pernah terjadi pada influenza H1N1 tahun 2009.

Pertama, terjadinya mutasi besar yang membuat virus H3N2 berubah menjadi varian yang benar-benar baru dan sangat berbeda dari sebelumnya.

Kedua, peningkatan signifikan dalam penularan yang disertai dengan tingkat keparahan penyakit yang lebih tinggi. Jika infeksi menyebar jauh lebih cepat dan menyebabkan kondisi klinis yang lebih berat, risiko epidemi tentu meningkat.

Ketiga, penyebaran lintas negara secara masif dan tak terkendali. Pandemi, tegasnya, ditandai dengan meluasnya penularan global tanpa lagi mengenal batas wilayah.

“Kalau ketiga faktor ini tidak muncul secara bersamaan, maka peluangnya untuk menjadi pandemi relatif kecil,” jelas Prof Tjandra.

Ia mengingatkan bahwa virus H3N2 sejatinya bukan virus baru. Lonjakan kasus influenza yang terjadi di negara-negara seperti Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat pada Oktober lalu, serta kemungkinan di Malaysia dan Thailand, juga dipicu oleh H3N2. Dunia bahkan pernah mengalami gelombang besar influenza pada 1968 yang disebabkan oleh virus yang sama, meski belum dalam bentuk subclade K.

Meski demikian, varian H3N2 subclade K tetap perlu dicermati. Virus ini disebut telah mengalami sekitar tujuh kali mutasi dan sejak November 2025 dinyatakan WHO sebagai varian yang menyebar cepat serta mendominasi kasus influenza di sejumlah negara belahan bumi utara.

Data terbaru dari Amerika Serikat per 30 Desember 2025 menunjukkan tingkat influenza berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian—melonjak tajam dari 17 negara bagian pada pekan sebelumnya.

Jumlah pasien influenza yang harus dirawat di rumah sakit juga meningkat drastis menjadi 19.053 orang, hampir dua kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mencatat sekitar 3.100 kematian akibat influenza pada musim flu kali ini, dengan peningkatan kasus kematian pada anak.

Sebagian besar kasus tersebut diketahui disebabkan oleh virus influenza A H3N2, dan bukan tidak mungkin didominasi oleh subclade K.

Menghadapi situasi ini, Prof Tjandra mengimbau masyarakat agar tetap waspada namun tidak panik. Jika mengalami gejala flu, disarankan untuk beristirahat, menjaga kondisi tubuh, serta memakai masker agar tidak menularkan ke orang lain.

Ia juga menyarankan agar segera berkonsultasi ke tenaga kesehatan bila gejala memburuk, serta melaporkan jika dalam satu lingkungan—rumah, kantor, atau sekolah—muncul beberapa kasus flu secara mendadak.

Vaksinasi influenza tetap dianjurkan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit penyerta.

Sementara kepada pemerintah, Prof Tjandra menekankan pentingnya komunikasi risiko yang terbuka dan berkelanjutan kepada publik.

“Akan sangat baik jika perkembangan virus influenza H3N2 subclade K ini disampaikan secara rutin dan transparan kepada masyarakat, termasuk setelah ditemukannya puluhan kasus di dalam negeri,” pungkasnya.

Bagikan
Written by
Gatot Wahyu

Gatot Wahyu adalah jurnalis senior yang telah berkecimpung di dunia pers sejak tahun 1990-an. Bergabung dengan Jaringan FIN CORP sejak 2014, ia memiliki spesialisasi dan wawasan mendalam dalam peliputan berita bidang politik, hukum, dan kriminal.

Artikel Terkait
Lifestyle

10 Ide Jualan Makanan Paling Laris 2026: Modal Kecil, Untung Besar, dan Cepat Balik Modal

finnews.id – Memulai bisnis kuliner menjadi pilihan strategis bagi banyak orang yang...

Lifestyle

Solusi Nyeri dan Memar, PT Tunggal Idaman Abdi Rilis Thrombovoren Emulgel

finnews.id – Tren gaya hidup aktif kini tengah menjamur di Indonesia. Semakin...

Tanaman Hias Lidah Mertua (rri)
Lifestyle

Jenis Tanaman Hias Multi Fungsi Terbaik untuk Kesehatan dan Dekorasi Rumah

finnews.id – Di tengah gaya hidup modern yang membuat kita lebih sering berada...

The Palace Jeweler gelar Semarak Pengundian Nasional 2026! Borong perhiasan emas & berlian, menangkan motor Yamaha dan hadiah mewah lainnya di 83 gerai.
Lifestyle

Banjir Hadiah! Semarak Pengundian Nasional The Palace 2026 Dimulai, Saatnya Borong Berlian dan Bawa Pulang Motor

finnews.id – Pernahkah Anda membayangkan belanja perhiasan mewah tapi malah pulang membawa...