Catatan Dahlan Iskan

Kopi (K)Mojang

Bagikan
Bagikan

Juve Zhang

Tiongkok sewa tanah ke Djibouti dan bangun pangkalan militer buat keperluan kapal kargo mereka yg sering kena perampok Somalia….. Ethiopia itu negara tempat relokasi industri garmen Tiongkok ribuan perusahaan Tiongkok pindah ke Ethiopia berikut industri estate nya dibangun Tiongkok jadi Inpestor Tiongkok sangat besar di Ethiopia yg kirim 1000 kontainer ke Djibouti per hari….ekspor inilah yg menghidupi Ethiopia dan Djibouti….. karena dekat Somali sering di rampok di laut maka Djibouti sewakan tanah nya ke pasukan kawal kapal kargo berbagai negara….tentu yg kapal kargo nya banyak lalu lalang….ini bukan pangkalan militer buat perang karena kecil.

Leong Putu

Paleng-paleng Pak Bos gur tuku jeroane thok, amergo regone sing paling murah… Wkwkw…. Tambah serundeng pastine…wkwk. Serundenge gratis..

Nimas Mumtazah

Bebek Djibouti.. Pemiliknya orang Pontianak asli aslinya Madura. Di mana² orang madura di kenal ulet. Bu Risma salah satunya. Di Makkah, bagi yg tidak bisa komunikasi bahasa Arab, tidak perlu khawatir, karena kebanyakan pedagang makanan khas Indo, dari Madura. Ada banyak cerita lucu dari rekan² yg sering berbelanja. Susah² belajar bahasa Arab, ngafalin beberapa mufrodah endingnya ” pagghun madureh”…

heru santoso

Petugas kebersihan itu berjejer sepanjang jalan seputaran Masjidil Haram, Makkah. “Pasukan kuning” yang digaji kerajaan itu gampang dikenali: tangan kiri pegang cikrak tangan kanan pegang sapu. Mereka lebih banyak mematung pasang tampang memelas, walau didepan mata sampah berserakan. Seringkali memberi kode mohon pemberian “sedekah” dari lalu-lalang jamaah umroh. Sesekali mereka bergerak serentak tanpa dikomando: pura-pura menyapu jalan sebetulnya membuntuti seorang dermawan. Makkah ini kota paling sibuk dan paling heterogen. Tempat bercampurnya pengusaha paling kaya, paling berkuasa, kiai paling khos, dan orang biasa. Tempat bertemunya orang dari peradaban paling tertib sampai yang melempar sisa makanan seenaknya di pinggir jalan. Maka keberadaan “pasukan kuning” itu adalah sebuah keniscayaan, walau malasnya ga ketulungan.

Bagikan
Written by
Lina Setiawati

Bergabung dengan FIN CORP di 2024, Lina Setiawati membawa pengalaman jurnalistik lebih dari dua dekade sejak tahun 2000. Spesialisasinya mencakup analisis berita olahraga, dinamika politik, hukum, kriminal, serta peristiwa nasional terkini.

Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Rumah Pala

  Kami terus memasuki kebun pala lebih ke dalam. Ini lagi musim...

Catatan Dahlan Iskan

New Rhun

Kalau sedang tidak musim pala –pohon pala berbuah tiga kali setahun– mereka...

Catatan Dahlan Iskan

Lu Biau

  Nama lengkapnya dulu: 卢比奥 (Lú bǐ ào). Namanya sekarang menjadi: 鲁比奥...

Catatan Dahlan Iskan

Tuntutan Tinggi

Lalu saya pun mengontak mas Agus: “Kok yang Mas Agus tulis itu...