finnews.id – Siswa berinisial FN, yang diduga sebagai pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta, ternyata pernah bercita-cita menjadi anggota ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).
Hal ini diungkapkan oleh Baisem (55), rekan kerja orang tua F yang selama ini tinggal serumah dengan keluarga tersebut di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.
“Dia pernah ngobrol, katanya kalau ke ayahnya bilang pengin jadi ABRI,” ujar Baisem saat ditemui awak media, Selasa (11/11/2025).
Namun menariknya, di hadapan Baisem, F justru mengaku memiliki impian lain — menjadi seniman atau pelukis. Menurutnya, F kerap menghabiskan waktu dengan menggambar kartun bergaya Jepang.
“Kalau ke saya, dia pernah bilang mau jadi pelukis. Dia memang suka melukis kartun,” tutur Baisem, perempuan asal Banjarnegara, Jawa Tengah itu.
Dikenal Pendiam
Baisem menggambarkan F sebagai sosok yang pendiam dan tertutup, terutama soal urusan sekolah. Karena itu, ia mengaku sangat terkejut saat mendengar kabar ledakan di SMAN 72.
“Saya sampai kaget, anak itu enggak pernah cerita apa-apa. Saya tanya ke bapaknya juga, katanya enggak pernah ada masalah di sekolah,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan sikap F mulai terlihat beberapa waktu belakangan. Ia menduga, tekanan dari lingkungan sekolah membuat F lebih banyak menghabiskan waktu dengan game online.
“Namanya anak remaja, kalau dijauhi teman itu berat. Jadi mungkin pelariannya ke main game, tapi ya game-nya itu enggak benar,” tambahnya.
Baisem juga mengungkap kebiasaan unik F yang mendadak berubah. Biasanya, setiap pagi sebelum berangkat sekolah, F selalu pamit dan mencium tangan orang yang lebih tua di rumah. Namun, kebiasaan itu tiba-tiba hilang selama sebulan terakhir.
“Iya, sebulan enggak salim (cium tangan). Saya pikir mungkin habis wudu mau salat Dhuha,” kenangnya.
Namun yang mengejutkan, pada hari kejadian ledakan, Jumat (7/11/2025), kebiasaan itu justru kembali.
“Hari itu dia salaman lagi, cium tangan seperti biasa sebelum diantar ayahnya ke sekolah,” ujar Baisem sambil memperagakan gestur salim.
Dua Ransel dan Alasan Pergi ke MOI
Pagi itu, Baisem juga memperhatikan F membawa dua ransel — sesuatu yang tak biasa. Ia sempat menanyakan alasannya, namun F menjawab santai.
“Saya tanya, ‘kamu mau ke mana bawa dua tas begitu?’ Dia bilang nanti habis sekolah mau ke acara di MOI (Mall of Indonesia) Kelapa Gading,” kata Baisem.
Beberapa jam kemudian, Baisem mendengar kabar mengejutkan: terjadi ledakan di SMAN 72 Jakarta. Namun, ia belum tahu bahwa F — yang tinggal serumah dengannya — diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.
“Baru sore harinya polisi datang ke rumah sekitar jam 14.30. Saya kaget sampai gemetar, enggak nyangka sama sekali,” ucapnya.
Selama mengenal F, Baisem mengatakan tidak pernah melihat gelagat aneh. Ia menggambarkan F sebagai anak yang sopan, ramah, dan tidak pernah membuat masalah di lingkungan rumah.
“Anaknya tuh sopan banget, enggak nakal, enggak pernah aneh-aneh. Enggak tahu kok bisa ya jadi begitu,” tutupnya dengan nada heran.
Peristiwa ini menambah panjang deretan kasus yang melibatkan remaja dan bahan peledak di lingkungan sekolah. Polisi masih melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap motif dan asal-usul bahan ledakan yang digunakan dalam insiden tersebut.