finnews.id – Pemerintah mulai mengambil langkah serius, untuk mengatasi tingginya angka kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api.
Melalui kolaborasi antara Kementerian Perhubungan, PT Kereta Api Indonesia (KAI), serta sejumlah lembaga terkait, diputuskan bahwa ratusan titik perlintasan akan ditutup dalam waktu dekat.
Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa manusia. Perlintasan sebidang adalah titik temu dua sistem transportasi dengan pola operasi berbeda,” ungkap Dirjen Perkeretaapian Kemenhub, Allan Tandiono.
Perlintasan sebidang selama ini dikenal sebagai salah satu titik paling rawan kecelakaan, terutama pada lokasi yang tidak memiliki penjagaan resmi.
“Kereta tidak dapat berhenti mendadak, sementara lalu lintas jalan bersifat dinamis. Jika tidak dikelola dengan baik, risikonya sangat tinggi,” jelasnya.
Dalam kurun waktu 2023 hingga 2026 saja, tercatat sebanyak 948 korban akibat insiden di perlintasan tersebut, dengan mayoritas kejadian terjadi di titik yang tidak dijaga.
Secara keseluruhan, Indonesia memiliki sekitar 3.674 perlintasan sebidang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.810 titik masuk dalam prioritas penanganan.
Pemerintah kemudian mengidentifikasi 172 perlintasan yang dinilai tidak memenuhi aspek keselamatan atau memiliki keterbatasan kondisi, sehingga diputuskan untuk ditutup.
Sementara itu, tidak semua perlintasan akan ditutup.
Sebanyak 1.638 titik lainnya akan ditingkatkan sistem keamanannya secara bertahap, termasuk melalui penambahan penjagaan, fasilitas keselamatan, hingga pemanfaatan teknologi modern.
Pihak pemerintah menegaskan, bahwa keselamatan manusia menjadi prioritas utama dalam kebijakan ini.
Perlintasan sebidang merupakan titik pertemuan antara dua sistem transportasi dengan karakter berbeda, kereta api yang tidak dapat berhenti mendadak dan kendaraan jalan raya yang bergerak dinamis.
Kondisi ini membuat risiko kecelakaan sangat tinggi, jika tidak ditangani dengan baik.
Selain penutupan, upaya lain yang akan dilakukan meliputi peningkatan pengawasan dan pemanfaatan teknologi, seperti sistem komunikasi berbasis GPS hingga otomatisasi operasional.