Dengan angka tersebut, Prabowo menilai BRICS memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan tandingan dalam menjaga keseimbangan dunia. Ia juga menekankan bahwa kerja sama dalam BRICS harus berlandaskan keterbukaan dan koordinasi antarnegera anggota.
Indonesia dan Hubungan dengan BRICS
Indonesia belum menjadi anggota BRICS, namun Prabowo menegaskan komitmen untuk memperkuat hubungan dengan kelompok tersebut. Ia juga menyampaikan dukungan penuh terhadap inisiatif yang telah diambil negara-negara BRICS.
“Kami mendukung inisiatif-inisiatif yang diambil, kami menghormati kepemimpinan Presiden Lula, dan Indonesia berkomitmen untuk bekerja lebih dekat dengan semua negara BRICS,” ungkapnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Indonesia melihat BRICS bukan sekadar forum ekonomi, tetapi juga wadah penting dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil.
Kepemimpinan Brasil dalam BRICS
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, sebagai ketua BRICS tahun 2025. Ia menilai Brasil berhasil mendorong agenda-agenda strategis yang relevan dengan tantangan global saat ini.
Dukungan terhadap Brasil menunjukkan sikap Indonesia yang proaktif dalam menjalin hubungan dengan berbagai negara di luar lingkaran tradisional mitra ekonomi.
Tantangan Global dan Relevansi BRICS
Forum BRICS semakin menjadi sorotan di tengah ketegangan geopolitik dunia. Dengan dominasi negara-negara besar dalam perdagangan dan politik global, BRICS hadir sebagai alternatif peta kekuatan internasional.
Pandangan Prabowo yang menekankan perlunya menghindari standar ganda dalam penerapan hukum internasional, sekaligus menunjukkan posisi Indonesia yang konsisten mendorong keadilan global.
Bagi Indonesia, keterlibatan dalam forum seperti BRICS juga membuka peluang memperluas kerja sama ekonomi, akses pasar, dan investasi strategis di tengah ketidakpastian global. (Anisha Aprilia)