finnews.id – Wabah Ebola kembali mengguncang Republik Demokratik Kongo setelah ratusan orang dilaporkan meninggal dunia akibat penyebaran virus mematikan tersebut. Situasi semakin mengkhawatirkan karena kasus kini tidak hanya ditemukan di wilayah timur Kongo, tetapi juga telah terdeteksi di negara tetangga, Uganda.
Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo menyebut wabah kali ini didominasi strain Bundibugyo, jenis Ebola yang lebih jarang muncul dibanding strain Zaïre yang sebelumnya lebih sering menyerang negara tersebut. Meski tingkat kematiannya dinilai sedikit lebih rendah, penyebaran yang terlambat terdeteksi membuat situasi berkembang sangat cepat.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO bahkan telah menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional setelah kasus mulai menyebar lintas wilayah.
Penyebaran Diduga Sudah Terjadi Sebelum Terdeteksi
Pusat penyebaran wabah berada di Provinsi Ituri, khususnya di kawasan pertambangan emas Mongwalu dan Rwampara. Pemerintah Kongo menduga virus sebenarnya telah menyebar diam-diam sebelum kasus pertama resmi diumumkan pada 24 April 2026.
Pasien pertama diduga merupakan seorang perawat yang meninggal di Bunia sebelum dimakamkan di Mongwalu. Dari titik tersebut, penyebaran virus terus meluas tanpa terdeteksi dengan cepat karena banyak warga mengira gejala yang muncul hanyalah malaria biasa.
Menteri Kesehatan Kongo, Dr Samuel Roger Kamba, mengakui tim medis kini sedang “mengejar ketertinggalan” dalam melacak rantai penularan.
Ia menjelaskan bahwa beberapa warga meninggal di komunitas tanpa pernah dilaporkan ke otoritas kesehatan. Akibatnya, investigasi epidemiologi menjadi sangat terlambat dilakukan.
Gejala Ebola Bundibugyo Sulit Dikenali
Strain Bundibugyo diketahui memiliki gejala yang kadang tidak langsung terlihat parah pada tahap awal. Kondisi ini membuat banyak penderita tidak segera mendapatkan penanganan medis.
Demam tinggi, pendarahan, tubuh lemah, muntah, dan diare tetap menjadi gejala utama. Namun pada beberapa kasus, tanda-tanda awal terlihat mirip penyakit tropis biasa seperti malaria atau tifus.
Kondisi tersebut membuat penyebaran virus berlangsung secara senyap di tengah masyarakat.
Di sejumlah wilayah, muncul pula kepercayaan mistis terkait wabah. Sebagian warga percaya kematian disebabkan fenomena gaib yang disebut “fenomena peti mati”, yakni keyakinan bahwa siapa pun yang menyentuh peti jenazah akan ikut meninggal.
Kepercayaan semacam itu membuat sebagian masyarakat terlambat mencari bantuan medis dan justru mempercepat penularan.