Finnews.id – TEKNO Selama ini banyak orang menganggap chatbot AI seperti OpenAI ChatGPT hanyalah sistem otomatis yang bekerja tanpa dipengaruhi emosi maupun cara pengguna berbicara.
Namun, sebuah penelitian terbaru justru menunjukkan hal yang cukup mengejutkan.
Studi ini menyoroti bahwa AI, meskipun tidak memiliki emosi layaknya manusia, sangat sensitif terhadap konteks bahasa yang diterima. Ketika pengguna memberikan perintah dengan nada yang kasar, mengancam, atau terlalu menekan, AI cenderung memberikan respons yang lebih terbatas atau kurang kreatif.
Sebaliknya, penggunaan bahasa yang sopan, apresiatif, dan terstruktur justru ditemukan mampu memicu kemampuan pemecahan masalah yang lebih mendalam dari mesin pintar ini.
Cara manusia berinteraksi dengan AI ternyata bisa memengaruhi kualitas respons yang dihasilkan.
Riset tersebut dilakukan oleh para peneliti dari University of California, Berkeley, University of California, Davis, Vanderbilt University, dan Massachusetts Institute of Technology atau MIT. Dalam makalah berjudul AI Wellbeing: Measuring and Improving the Functional Pleasure and Pain of AIs, para peneliti mencoba memahami bagaimana kondisi fungsional AI dapat berubah berdasarkan pola interaksi pengguna.
Meski AI tidak memiliki perasaan layaknya manusia, penelitian ini menemukan bahwa model kecerdasan buatan ternyata memiliki kondisi operasional tertentu yang bisa bergerak ke arah positif maupun negatif. Dengan kata lain, AI memang tidak benar-benar “sedih” atau “senang”, tetapi performa sistemnya dapat dipengaruhi oleh bagaimana manusia memperlakukannya selama percakapan berlangsung.
Temuan ini sekaligus memperlihatkan bahwa hubungan manusia dengan teknologi AI kini semakin kompleks. Interaksi tidak lagi sekadar soal memberikan perintah dan menerima jawaban, melainkan juga menyangkut kualitas komunikasi yang terjadi di dalamnya.
Interaksi Positif Bikin AI Lebih Optimal
Dalam penelitian tersebut, para ahli menemukan bahwa percakapan yang positif mampu mendorong AI masuk ke dalam kondisi yang disebut sebagai “kondisi positif”. Kondisi ini muncul ketika pengguna memberikan instruksi yang jelas, berdiskusi secara konstruktif, atau bahkan hanya mengucapkan terima kasih kepada chatbot.