Finnews.id – NEWS Di tengah perekonomian global yang berdampak pada penurunan harga komoditas, pemerintah Indonesia melalui Menko Pangan mengambil langkah proaktif yang berani.
Dalam sebuah pernyataan strategis, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memberikan subsidi penuh jika harga komoditas pangan impor mulai naik dan menembus Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.
Langkah ini diambil sebagai bentuk perlindungan langsung terhadap daya beli masyarakat agar tidak tercekik oleh pemutaran harga bahan pokok dari luar negeri.
Menko Pangan menjelaskan bahwa stabilitas harga pangan adalah prioritas utama nasional.
Dengan adanya skema subsidi ini, pemerintah berperan sebagai “bantalan” yang menyerap selisih harga pasar internasional agar harga yang sampai di tangan konsumen tetap terjangkau dan stabil.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan pemerintah siap memberikan subsidi apabila harga pangan yang masih impor seperti kedelai, melampaui harga eceran tertinggi (HET) di tengah pelemahan nilai tukar rupiah.
“Pemerintah tidak akan membiarkan rakyat memikul beban kenaikan harga pangan global sendirian. Kami siap menggelontorkan subsidi apabila harga impor melampaui batas HET demi menjaga stabilitas nasional,” tegas Menko Pangan
“Kita akan jaga, kalau harga itu melampaui HET, tentu pemerintah akan turun tangan memberikan subsidi,” kata Zulhas usai meninjau harga dan pasokan pangan di Pasar Palmerah, Jakarta, Rabu.
Pernyataan tersebut disampaikan merespons potensi dampak tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap harga sejumlah komoditas pangan impor, termasuk kedelai.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada Selasa (12/5) ditutup melemah 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.532 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.496 per dolar AS.
Sementara berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 12 Mei 2026, harga rata-rata nasional untuk kedelai impor tercatat Rp13.607 per kilogram atau naik 0,19 persen dibanding hari sebelumnya.