finnews.id – Hubungan di Semenanjung Korea kembali memanas. Kabar mengejutkan datang dari Pyongyang yang berencana menempatkan unit artileri jenis baru tepat di sepanjang perbatasan Korea Selatan.
Langkah ini bukan sekadar gertakan, sebab senjata berat tersebut memiliki jangkauan yang cukup untuk menjangkau pusat kota Seoul serta kawasan industri vital di sekitarnya.
Keputusan ini muncul di tengah sikap Korea Utara yang kian agresif. Meskipun Seoul terus menawarkan upaya perdamaian, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un justru secara terang-terangan menetapkan Korea Selatan sebagai musuh utamanya.
Meriam Howitzer 155mm: Ancaman Baru bagi Seoul
Melansir dari laporan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Jumat (8 Mei), Kim Jong Un baru saja mengunjungi pabrik amunisi untuk meninjau produksi massal “meriam-howitzer swa-gerak 155 milimeter tipe baru”. Senjata ini diklaim memiliki daya jangkau lebih dari 60 km.
Jika kita melihat peta, jarak pusat Seoul hanya sekitar 50 hingga 60 km dari garis perbatasan. Artinya, sebagian besar Provinsi Gyeonggi yang padat penduduk dan pusat industri strategis kini berada dalam jangkauan serangan langsung.
“Meriam howitzer itu akan memberikan perubahan dan keuntungan signifikan bagi operasi darat militer kita,” lapor KCNA mengutip pernyataan Kim.
Pyongyang Hapus Referensi Penyatuan Korea
Sikap permusuhan ini dipertegas dengan langkah politik yang drastis. Korea Utara resmi menghapus semua referensi mengenai “penyatuan tanah air” dari konstitusi mereka.
Dalam tinjauan terbaru, dokumen tersebut tidak lagi mencantumkan klausul upaya damai untuk menyatukan semenanjung yang terbagi sejak perang tahun 1950-1953.
Konstitusi baru ini justru secara tegas mendefinisikan wilayah Korea Utara yang berbatasan langsung dengan “Republik Korea” (nama resmi Korea Selatan) di sisi selatan.
Hal ini menandakan bahwa Korea Utara tidak lagi menganggap Korea Selatan sebagai saudara sebangsa yang terpisah, melainkan entitas musuh sepenuhnya.
Inspeksi Kapal Perusak Choe Hyon dan Uji Nuklir
Selain kekuatan darat, Kim Jong Un juga memperkuat armada lautnya. Kim terpantau mengunjungi kapal perusak Choe Hyon berbobot 5.000 ton di Laut Kuning. Kapal ini dijadwalkan resmi bertugas pada pertengahan Juni mendatang.
Menariknya, dalam kunjungan tersebut, Kim tampak didampingi oleh putrinya, Ju Ae. Analis militer menaruh perhatian khusus pada kapal Choe Hyon karena sebelumnya telah digunakan untuk meluncurkan rudal jelajah strategis yang diduga mampu membawa hulu ledak nuklir.
Hingga saat ini, Korea Utara dan Korea Selatan secara teknis masih dalam keadaan perang karena konflik masa lalu hanya berakhir dengan gencatan senjata.
Menanggapi situasi yang kian tegang ini, kantor kepresidenan Korea Selatan pada hari Kamis menyatakan bahwa mereka akan tetap berupaya mengejar jalur perdamaian, meskipun ancaman artileri di depan mata terus meningkat.