FINNEWS,ID – Wabah hantavirus yang muncul di kapal pesiar MV Hondius memicu perhatian internasional setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia. Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan penularan antar manusia, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada hantavirus.
Namun di tengah kekhawatiran publik, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menegaskan bahwa situasi ini tidak sama seperti awal pandemi COVID-19. Para ahli menyebut risiko penyebaran luas ke masyarakat umum masih sangat rendah.
WHO Tegaskan Hantavirus Tidak Seperti COVID-19
Epidemiolog WHO, Maria van Kerkhove, mengatakan masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Menurutnya, virus ini menyebar dengan cara yang sangat berbeda dibanding COVID-19 atau influenza.
“Ini bukan COVID, ini bukan influenza. Penyebarannya sangat berbeda,” ujar Maria van Kerkhove dalam konferensi pers WHO.
Virus penyebab wabah di kapal pesiar tersebut diketahui merupakan strain Andes dari hantavirus. Tidak seperti campak atau COVID-19 yang sangat mudah menular lewat udara, hantavirus membutuhkan kontak sangat dekat dan berlangsung lama untuk bisa berpindah antar manusia.
WHO menyebut hingga kini terdapat delapan kasus yang teridentifikasi di kapal pesiar, terdiri dari tiga kasus terkonfirmasi dan lima kasus dugaan.
Berawal dari Kapal Pesiar MV Hondius
Kapal pesiar MV Hondius berlayar dari Ushuaia sekitar satu bulan lalu dengan membawa penumpang dari berbagai negara.
Dalam perjalanan tersebut, tiga penumpang meninggal dunia, sementara empat lainnya harus dievakuasi untuk menjalani perawatan medis.
Otoritas kesehatan kini melakukan pelacakan besar-besaran terhadap penumpang yang telah kembali ke negara masing-masing, termasuk ke Britania Raya, Amerika Serikat, Belanda, Swiss, dan Afrika Selatan.
Pakar kesehatan Inggris menyebut operasi pelacakan kontak ini sebagai salah satu upaya terbesar karena melibatkan banyak negara dan penerbangan internasional.
Bagaimana Hantavirus Menyebar?
Secara umum, hantavirus berasal dari hewan pengerat seperti tikus. Manusia dapat tertular ketika menghirup partikel virus dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.
WHO menduga salah satu penumpang mungkin terpapar virus saat kapal mengunjungi wilayah liar terpencil di dekat Antartika atau bahkan sebelum naik kapal.
Pada strain Andes, penularan antar manusia memang pernah ditemukan dalam beberapa wabah sebelumnya. Namun penularannya hanya terjadi melalui kontak sangat dekat dalam waktu lama, misalnya berbagi ruangan sempit atau merawat pasien secara intensif.
Kondisi kapal pesiar yang memiliki kabin terbatas, ruang makan bersama, dan aktivitas tertutup diduga memperbesar kemungkinan penularan antar penumpang.