Home Uncategorized PMI Manufaktur Turun ke 49,1, Industri Tertekan Biaya Tinggi dan Permintaan Melemah
Uncategorized

PMI Manufaktur Turun ke 49,1, Industri Tertekan Biaya Tinggi dan Permintaan Melemah

Bagikan
PMI-BI Triwulan I 2026 melesat ke 52,03%! Industri kertas, alas kaki, dan makanan jadi motor utama. Simak proyeksi ekonomi manufaktur RI selanjutnya.
Ilustrasi - Industri Manufaktur
Bagikan

finnews.id – Kinerja sektor industri nasional kembali mendapat tekanan setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026. Angka ini menandakan aktivitas industri berada dalam fase kontraksi, dipicu lonjakan biaya produksi dan melemahnya permintaan pasar.

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kondisi ini mencerminkan tekanan serius yang tengah dihadapi sektor manufaktur.

Biaya Produksi Melonjak, Industri Terjepit

Yusuf menjelaskan, kenaikan tajam biaya input menjadi faktor utama penurunan PMI. Bahkan, biaya produksi industri disebut mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Lonjakan ini tidak lepas dari gangguan rantai pasok global akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

“Dampaknya langsung terasa, mulai dari kenaikan harga bahan baku, pasokan yang tersendat, hingga waktu pengiriman yang semakin lama,” ujarnya.

Permintaan Melemah, Produksi Ditahan

Di sisi lain, permintaan domestik yang mulai melambat semakin memperparah kondisi. Pelaku industri kini menghadapi dilema: biaya produksi naik, tetapi harga jual sulit dinaikkan karena daya beli melemah.

Situasi ini membuat banyak perusahaan memilih menahan produksi bahkan mengurangi output. Dampaknya pun tercermin langsung pada penurunan PMI manufaktur ke bawah level 50.

Ancaman Lebih Luas: Investasi hingga Tenaga Kerja

Jika kondisi ini terus berlanjut, Yusuf memperingatkan dampaknya bisa meluas ke berbagai aspek ekonomi. Mulai dari turunnya utilisasi pabrik, melemahnya kepercayaan pelaku usaha, hingga tertahannya investasi baru.

Tak hanya itu, sektor ketenagakerjaan juga berpotensi terdampak akibat berkurangnya aktivitas produksi di industri.

Solusi: Insentif dan Penguatan Rantai Pasok

Untuk meredam tekanan, pemerintah dinilai perlu segera mengambil langkah strategis. Di antaranya dengan memberikan insentif bagi sektor terdampak serta menjaga biaya produksi tetap kompetitif.

Selain itu, penguatan rantai pasok domestik dan diversifikasi sumber bahan baku menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

“Jika kontraksi PMI terus berlanjut, dampaknya bisa cukup luas terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Yusuf.

Bagikan
Written by
Gatot Wahyu

Gatot Wahyu adalah jurnalis senior yang telah berkecimpung di dunia pers sejak tahun 1990-an. Bergabung dengan Jaringan FIN CORP sejak 2014, ia memiliki spesialisasi dan wawasan mendalam dalam peliputan berita bidang politik, hukum, dan kriminal.

Artikel Terkait
Ekonomi RI kuartal II-2026 diprediksi melambat ke 5,1-5,3%. Tekanan minyak, rupiah, dan manufaktur jadi faktor utama.
Uncategorized

Begini Komen Apindo Soal Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen 

finnews.id – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Kamdani menyoroti bahwa pertumbuhan...

Guru
Uncategorized

Guru Non-ASN Akan Dirumahkan 2027? Ini Penjelasan Resmi Kemendikdasmen

finnews.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah membantah kabar yang menyebut guru...

Uncategorized

VVIP Selamanya?

Jangan dihitung nilai ekonominya: Bandara Nusantara di IKN. Nama resminya: Bandara VVIP...

Uncategorized

Kemendikdasmen Rilis Logo Hardiknas 2026: Simak Makna Filosofis dan Link Unduhnya

finnews.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan logo dan...