finnews.id – Pemerintah tengah mengkaji penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti LPG tabung 3 kilogram guna mengurangi ketergantungan impor energi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan saat ini pemerintah sedang melakukan uji coba pengembangan tabung CNG berukuran kecil yang setara dengan LPG 3 kg.
“Untuk ukuran 3 kilogram masih dalam tahap uji coba karena tekanannya cukup besar. Dalam dua hingga tiga bulan ke depan kami harapkan sudah ada hasilnya,” ujar Bahlil usai rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa.
Menurut dia, CNG bukan teknologi baru karena telah digunakan di berbagai sektor, seperti perhotelan dan restoran. Namun, pemanfaatannya selama ini masih terbatas pada tabung berkapasitas besar di atas 10 hingga 20 kilogram.
Pemerintah kini berupaya menghadirkan versi tabung kecil agar dapat digunakan oleh rumah tangga. Tantangan utama terletak pada aspek teknis, mengingat tekanan gas CNG mencapai 200 hingga 250 bar, jauh lebih tinggi dibandingkan LPG.
Bahlil menyebutkan, jika hasil uji coba dinyatakan layak, pemerintah membuka peluang konversi bertahap dari LPG ke CNG untuk kebutuhan rumah tangga.
Ia menambahkan, CNG memiliki keunggulan karena bahan bakunya berasal dari dalam negeri. Pemerintah juga telah menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik.
Dari sisi ekonomi, CNG diperkirakan memiliki harga sekitar 30 persen lebih murah dibandingkan LPG karena tidak bergantung pada impor serta memiliki biaya distribusi yang lebih rendah.
Meski demikian, pemerintah masih mengkaji skema subsidi untuk penggunaan CNG, termasuk kemungkinan besaran dan volumenya.
“Semua masih dikaji, termasuk kemungkinan subsidi,” kata Bahlil.
Saat ini, penggunaan CNG dalam skala besar telah diterapkan di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Jawa. Pemerintah menilai teknologi tersebut siap dikembangkan lebih luas sebagai solusi energi nasional yang lebih mandiri dan efisien.