Home Market Harga Kedelai dan Plastik Naik, Ini yang Harus Dilakukan Pengrajin Tempe 
Market

Harga Kedelai dan Plastik Naik, Ini yang Harus Dilakukan Pengrajin Tempe 

Bagikan
Perajin Tempe (antara)
Bagikan

finnews.id – Kenaikan harga bahan baku kembali menekan pelaku usaha kecil. Kali ini, pengrajin tempe di Kabupaten Ponorogo harus mencari cara agar tetap bertahan di tengah melonjaknya harga kedelai dan plastik kemasan.

Alih-alih menaikkan harga jual, banyak pengrajin memilih strategi lain yang lebih “halus” agar tidak kehilangan pelanggan.

Salah satu pengrajin tempe di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Hadi Prayitno mengungkapkan bahwa lonjakan harga kedelai impor dan bahan pendukung membuat biaya produksi meningkat tajam.

Namun, menaikkan harga bukan pilihan mudah.

“Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa berkurang. Jadi kami kurangi ukuran tempe,” ujarnya.

Kini, berat tempe per bungkus dikurangi dari sekitar 380 gram menjadi 350 gram. Meski lebih kecil, harga tetap dipertahankan agar tetap terjangkau bagi konsumen.

Produksi Menyusut

Dampak kenaikan harga tidak hanya terasa pada ukuran produk, tetapi juga pada kapasitas produksi.

Sebelumnya, produksi tempe bisa mencapai sekitar 3 kuintal per hari. Kini, jumlahnya turun menjadi hanya 2 hingga 2,5 kuintal per hari.

Penurunan ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan biaya produksi yang semakin tinggi, sekaligus menjaga kualitas produk tetap stabil.

Meski harga melonjak, pengrajin masih bergantung pada kedelai impor. Hal ini karena:

  • Pasokan kedelai lokal terbatas
  • Hasil produksi kedelai impor lebih banyak
  • Kualitas dinilai lebih stabil

Kondisi ini membuat pelaku usaha sulit menghindari dampak fluktuasi harga global.

Harga Kedelai Melonjak Drastis

Menurut pedagang di Pasar Legi Ponorogo, harga kedelai impor kini naik dari Rp10.000 menjadi Rp12.000 per kilogram.

Sementara itu, kedelai lokal juga ikut terdongkrak dari Rp9.000 menjadi sekitar Rp12.000 per kilogram.

Kenaikan ini diduga dipicu oleh dampak konflik global, termasuk situasi di Timur Tengah yang memengaruhi rantai pasok dan harga komoditas dunia.

Situasi ini membuat pengrajin berada di posisi sulit:

  • Jika harga dinaikkan berisiko kehilangan pembeli
  • Jika ukuran dikurangi maka margin tetap terjaga

Strategi memperkecil ukuran produk pun menjadi jalan tengah yang banyak dipilih.

Bagikan
Written by
Gatot Wahyu

Gatot Wahyu adalah jurnalis senior yang telah berkecimpung di dunia pers sejak tahun 1990-an. Bergabung dengan Jaringan FIN CORP sejak 2014, ia memiliki spesialisasi dan wawasan mendalam dalam peliputan berita bidang politik, hukum, dan kriminal.

Artikel Terkait
Market

Grab Singapura Cetak Pendapatan US$955 Juta di Kuartal I, Lampaui Ekspektasi Wall Street! 

finnews.id – Grab Singapura baru saja mengukir prestasi gemilang dengan mencatatkan pendapatan...

Market

CIMB Niaga Gandeng 27 Perguruan Tinggi, Dorong Pengembangan Talenta Muda

finnews.id – PT Bank CIMB Niaga Tbk memperkuat kolaborasi dengan dunia pendidikan...

Laba CIMB Niaga Q1 2026 turun tipis jadi Rp1,77 triliun, meski margin tetap kuat di tengah tekanan pendapatan.
Market

Laba CIMB Niaga Q1 2026 Turun Tipis Jadi Rp1,77 Triliun, Margin Masih Tebal!

finnews.id – Kinerja PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) pada kuartal pertama...

IHSG naik ke 7.057 dengan transaksi Rp23,6 triliun. BRPT dan TPIA melonjak, meski asing masih catat net sell Rp518 miliar.
Market

IHSG Melejit ke 7.057! Saham BRPT Cs Terbang, Asing Masih Net Sell Rp518 Miliar

finnews.id – Pergerakan pasar saham Indonesia menunjukkan sinyal positif pada perdagangan Selasa,...