finnews.id – Harga minyak mentah kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan Rabu ini. Lonjakan harga ini terjadi setelah muncul laporan bahwa Presiden Donald Trump berencana memperpanjang blokade angkatan laut Amerika Serikat di Selat Hormuz.
Jalur air paling krusial bagi distribusi energi global ini kini terancam mengalami gangguan jangka panjang yang bakal mencekik pasar internasional.
Berdasarkan data Bloomberg, kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan dunia, melompat sekitar 3,3% hingga menembus angka $114 per barel. Sementara itu, patokan AS yakni minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga ikut terkerek naik 3,4% ke kisaran $103 per barel.
Strategi Tekanan Maksimum Gedung Putih
Kenaikan harga ini mulai terpicu sejak Wall Street Journal melaporkan instruksi Trump kepada para pembantunya. Pemimpin AS tersebut lebih memilih blokade jangka panjang untuk menekan ekonomi Iran daripada harus terlibat dalam konflik langsung yang lebih luas.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa Teheran sedang berada dalam posisi sulit.
“Mereka tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir,” tulis Trump pada Rabu, 29 April 2029 pagi.
Meskipun pihak Iran menuntut pencabutan blokade sebagai syarat negosiasi perdamaian, Trump bersikeras tidak akan melepas tekanan tersebut sampai Teheran menyetujui kesepakatan baru. Situasi ini pun menciptakan kebuntuan atau deadlock yang sangat memengaruhi stabilitas harga energi.
Persediaan Minyak Global Mendekati Titik Terendah
Dampak dari blokade ini bukan main-main. Menurut analisis dari Goldman Sachs, pasar energi menghadapi kekurangan pasokan hingga 13,7 juta barel per hari pada bulan April ini. Terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz membuat cadangan minyak dunia kian menipis dan mendekati titik terendah sepanjang masa.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengklaim bahwa kampanye “tekanan maksimum” ini mulai membuahkan hasil. Ia menyebut terminal ekspor utama Iran di Pulau Kharg sudah hampir penuh, sehingga rezim tersebut terpaksa mulai menghentikan produksinya.
Data dari platform intelijen Kpler memperkirakan Iran hanya memiliki waktu sekitar 12 hingga 22 hari lagi sebelum kapasitas penyimpanan mereka benar-benar penuh. Jika mereka harus menutup sumur minyak, risikonya adalah kerusakan pada infrastruktur yang sudah tua dan rapuh.
Namun, peneliti dari Center on Global Energy Policy, Robin Mills, berpendapat bahwa Iran kemungkinan besar mampu mengatasi penghentian produksi tersebut sebagaimana pengalaman mereka sebelumnya.