finnews.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memerah di awal perdagangan Jumat (24/4/2026). Indeks langsung kehilangan tenaga sejak pembukaan dan memperpanjang tren pelemahan yang sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Pada sesi awal, IHSG dibuka di level 7.378 atau stagnan dibanding penutupan sebelumnya. Namun tekanan jual segera mendominasi. Pada pukul 09.05 WIB, indeks turun 0,44% atau sekitar 32 poin ke level 7.346. Sepanjang sesi, indeks sempat menyentuh level tertinggi 7.380 sebelum akhirnya terperosok hingga 7.341.
Kondisi ini mempertegas potensi pelemahan sepanjang pekan, setelah sebelumnya IHSG sudah turun selama empat hari berturut-turut.
Tekanan Merata, Mayoritas Saham Melemah
Tekanan pasar terlihat cukup luas. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 354 emiten terkoreksi, sementara hanya 197 saham menguat dan 408 lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas transaksi juga cukup tinggi. Frekuensi perdagangan mencapai 200,2 ribu kali dengan nilai transaksi sebesar Rp1,95 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat di kisaran Rp13,13 triliun pada periode tersebut.
Secara sektoral, tekanan terjadi hampir di seluruh lini. Sektor keuangan turun 0,92%, diikuti bahan baku 0,83%, properti 0,67%, serta konsumer non-primer 0,63%.
Selain itu, sektor infrastruktur melemah 0,57%, transportasi 0,46%, teknologi 0,37%, kesehatan 0,21%, dan energi turun tipis 0,10%.
Hanya segelintir sektor yang mampu bertahan, sementara dua sektor yang tercatat melemah paling dalam adalah konsumer primer yang turun 0,71% dan industri yang terkoreksi 0,16%.
Sentimen Global Jadi Biang Tekanan
Pelemahan IHSG tidak terjadi tanpa sebab. Pasar global sedang berada dalam tekanan kuat akibat meningkatnya ketegangan geopolitik serta ketidakpastian di sektor teknologi.
Tiga indeks utama di Amerika Serikat kompak ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya. Kondisi ini dipicu oleh memanasnya konflik global dan kekhawatiran terhadap potensi disrupsi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).