Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, menegaskan bahwa sektor teknologi menjadi titik lemah yang menyeret pasar global.
“Geopolitik yang memanas ditambah kekhawatiran disrupsi AI membuat sektor teknologi menjadi titik lemah yang menyeret indeks AS,” ujarnya.
Rupiah Tembus Rekor Terendah, Asing Jual Besar
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham. Nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan tajam hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah di Rp17.315 per dolar AS.
Di sisi lain, aksi jual investor asing semakin memperburuk kondisi. Pada perdagangan sebelumnya, dana asing keluar dari pasar reguler mencapai Rp1,36 triliun. Arus keluar ini memperkuat tekanan pada IHSG, terutama di saham-saham berkapitalisasi besar.
Saham dengan struktur kepemilikan terkonsentrasi juga ikut memberikan beban tambahan terhadap indeks.
Harga Minyak Naik, Emas Justru Turun
Pergerakan komoditas turut mencerminkan kondisi pasar global yang penuh ketidakpastian. Harga minyak mentah melonjak 3,11% ke level USD95,85 per barel, dipicu gangguan distribusi di Selat Hormuz yang semakin memanas.
Sementara itu, harga batubara naik tipis 0,34% ke USD133,25 per metrik ton.
Berbeda dengan energi, harga emas justru mengalami penurunan sebesar 0,97% ke level USD4.694 per troy ounce. Penurunan ini menunjukkan perubahan preferensi investor.
“Penurunan emas ini menjadi sinyal bahwa investor mulai beralih ke dolar sebagai safe haven di tengah ketegangan geopolitik,” jelas Brigita.
Rekomendasi Saham Hari Ini
Di tengah tekanan pasar, Indo Premier Sekuritas tetap memberikan sejumlah rekomendasi saham untuk dicermati pelaku pasar. Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain:
INDY dengan strategi buy pada entry 3.880, target 4.270, dan stop loss 3.700.
TAPG dengan entry 2.030, target 2.200, dan stop loss 1.950.
BBTN dengan strategi buy on pullback di rentang 1.410–1.420, target 1.545, dan stop loss 1.355.
Prospek Pasar Masih Dibayangi Ketidakpastian
Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah IHSG. Kombinasi tekanan geopolitik, pelemahan rupiah, serta lonjakan harga energi membuat pasar domestik sulit keluar dari tren negatif.