finnews.id – Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan performa impresif dengan mendekati level 79.500 dolar AS pada Rabu (22/4). Kenaikan ini terjadi setelah sempat terkoreksi ke kisaran 74.000 dolar AS di awal pekan (20/4), menandakan adanya momentum positif di tengah ketidakpastian global.
Lonjakan harga Bitcoin ini dinilai tidak lepas dari derasnya arus dana institusional yang terus mengalir ke pasar kripto. Vice President INDODAX, Antony Kusuma, mengungkapkan bahwa produk spot Bitcoin ETF mencatat akumulasi dana sekitar 250,22 juta dolar AS sepanjang pekan, dengan total mencapai 57,95 miliar dolar AS.
Menurutnya, tren ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap aset kripto masih sangat kuat, meskipun kondisi pasar global tengah bergejolak.
Tetap Kuat di Tengah Panasnya Geopolitik
Menariknya, penguatan harga Bitcoin terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama setelah Iran menolak melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat. Situasi ini biasanya menekan aset berisiko, namun Bitcoin justru mampu bertahan dan menguat.
Hal ini mengindikasikan bahwa pergerakan Bitcoin kini tidak hanya bergantung pada sentimen global, tetapi juga ditopang oleh permintaan kuat dari investor institusional dalam jangka panjang.
Struktur pasar kripto saat ini mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya didominasi investor ritel, kini peran investor institusional semakin besar dalam mendorong harga.
Permintaan yang konsisten melalui instrumen seperti ETF menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas sekaligus mendorong kenaikan harga Bitcoin.
Efek Kebijakan The Fed
Selain faktor institusional, kebijakan moneter Amerika Serikat juga ikut memengaruhi pergerakan Bitcoin. Ketidakpastian arah suku bunga di tengah inflasi yang belum stabil membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko dalam jangka pendek.
Namun, di sisi lain, semakin diterimanya aset digital sebagai bagian dari sistem keuangan modern memberikan sentimen positif bagi prospek jangka panjang kripto.
Kenaikan harga Bitcoin juga dipicu oleh fenomena short squeeze di pasar derivatif. Banyak posisi short terpaksa ditutup saat harga mulai naik, sehingga menciptakan lonjakan permintaan dalam waktu singkat.
Efek ini mempercepat penguatan harga dan memperbesar momentum bullish dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, kenaikan harga Bitcoin saat ini merupakan hasil kombinasi dari berbagai faktor, mulai dari geopolitik, kebijakan ekonomi global, hingga meningkatnya partisipasi investor institusional.
Meski prospeknya terlihat positif, volatilitas tetap menjadi ciri khas pasar kripto. Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap menerapkan manajemen risiko yang baik serta melakukan riset sebelum mengambil keputusan investasi.