finnews.id – Pernahkah kamu membayangkan harga nikel dan emas meroket bersamaan tepat saat kamu punya stoknya? Nah, momen langka ini sedang terjadi! Pasar logam sedang berada dalam fase “kebakaran” harga yang sangat menguntungkan. Bagi kamu yang sedang memantau portofolio saham, siapkan diri karena sektor pertambangan logam diprediksi akan pamer kinerja super kinclong pada Kuartal I-2026 (1Q26F). Di antara semua pemain besar, nama ANTM (PT Aneka Tambang Tbk) muncul sebagai calon juara yang bakal kasih cuan paling tebal!
Kabar mengejutkan ini datang di tengah gejolak global yang tidak menentu. Harga nikel di LME (London Metal Exchange) beserta produk turunannya seperti NPI, MHP, dan matte melesat tajam antara 15 hingga 18 persen secara kuartalan. Pemicu utamanya? Apalagi kalau bukan pemangkasan kuota RKAB yang bikin pasokan seret tapi permintaan tetap menggila. Kamu tentu tidak mau ketinggalan kereta saat harga-harga komoditas ini terbang tinggi, bukan?
ANTM Siap Cetak Rekor Laba: Naik 172 Persen, Kamu Siap Borong?
Data terbaru dari para analis menunjukkan proyeksi yang bikin mata melotot untuk ANTM. Laba bersih ANTM pada kuartal pertama 2026 diperkirakan menembus angka fantastis Rp3,4 triliun. Bayangkan, angka ini mencerminkan kenaikan laba bersih sebesar 172 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (qoq) atau melonjak 56 persen secara tahunan (yoy). Prediksi ini jauh melampaui ekspektasi konsensus pasar yang biasanya konservatif.
Kenapa laba ANTM bisa meledak sehebat itu? Rahasianya ada pada “turnaround” atau titik balik luar biasa di bisnis perdagangan emas dan nikel. Laju penjualan emas bulanan ANTM diramal bakal naik tiga kali lipat! Belum lagi harga jual rata-rata (ASP) bijih nikel yang kini nangkring di kisaran US$66 per wmt. Meskipun sempat ada aliran dana asing keluar akibat perang AS-Iran, valuasinya saat ini masih sangat murah—diperdagangkan pada P/E 7-8 kali jauh di bawah rata-rata historisnya yang biasanya mencapai 10-11 kali. Ini adalah kesempatan emas sebelum pasar melakukan re-rating harga!
Nasib INCO, ADMR, dan EMAS: Sabar Ya, Cuan Gede Baru Datang di Akhir Tahun
Sementara ANTM berpesta di awal tahun, bagaimana dengan rekan-rekannya? Untuk INCO (Vale Indonesia), laba bersih 1Q26 mungkin akan sedikit terkoreksi tipis sekitar 11 persen menjadi US$21 juta. Penyebabnya adalah volume produksi matte yang menurun sementara karena adanya renovasi tungku (furnace rebuild). Begitu juga dengan ADMR dan EMAS yang penjualannya diprediksi masih minimal di awal tahun karena masalah teknis dan musim.
Tapi tenang, jangan langsung jual sahammu! Para ahli meyakini bahwa kinerja ketiga perusahaan ini adalah tipe “back-loaded”. Artinya, meskipun 1Q26 terlihat lesu, ledakan laba yang sesungguhnya baru akan terjadi secara masif pada semester kedua tahun 2026 (2H26F). Ini saatnya mengumpulkan perlahan saat harga masih diskon!
Fokus Dunia ke Selat Hormuz: Harga Belerang Naik 75 Persen, Apa Dampaknya?
Saat ini, mata para raksasa tambang seperti MDKA, MBMA, dan NCKL bukan cuma tertuju pada laporan keuangan, tapi juga pada Selat Hormuz. Ketegangan di wilayah tersebut membuat harga belerang (sulphur) melambung hingga 75 persen sejak awal tahun (YTD). Belerang adalah bahan baku penting dalam proses pengolahan nikel modern.
Meski harga bahan baku naik, perusahaan seperti MBMA justru punya peluang ekspansi margin. Harga jual NPI mereka melonjak 18 persen, dan untuk pertama kalinya MBMA mulai mengenakan harga pasar untuk bijih limonit di atas US$20 per wmt. Selisih keuntungan (cash margin) mereka diprediksi akan jauh lebih sehat dibandingkan tahun lalu. Dinamika di Selat Hormuz memang menakutkan, tapi di sisi lain, kelangkaan ini justru bisa memicu harga nikel LME naik lebih tinggi lagi!
Rekomendasi Sektor: Borong Saham Logam Sekarang Juga!
Melihat semua data di atas, para analis tetap memberikan rating “Overweight” untuk sektor logam. ANTM tetap menjadi pilihan utama (top pick) berkat pengiriman laba bersih yang spektakuler, disusul oleh INCO dan MBMA yang punya prospek pertumbuhan jangka panjang yang sangat solid.
Tentu tetap ada risiko, mulai dari kelangkaan belerang hingga risiko eksekusi proyek. Namun, dengan fundamental yang sekuat ini dan harga komoditas yang sedang di puncak, sektor pertambangan logam Indonesia tampaknya sedang menyiapkan pesta besar bagi para investor yang berani mengambil posisi sekarang. Jangan sampai kamu cuma jadi penonton saat indeks sektor ini nanti melesat tinggi! (*)