Home Market Harga Bitcoin Hari Ini Merosot ke Rp1,29 Miliar, Gara-gara Sanksi AS ke Iran
Market

Harga Bitcoin Hari Ini Merosot ke Rp1,29 Miliar, Gara-gara Sanksi AS ke Iran

Bagikan
Harga Kripto
Bagikan

finnews.id – Pasar aset kripto kembali terjebak dalam zona merah pada perdagangan Rabu (22/4) pagi. Harga Bitcoin (BTC) dan sejumlah aset digital papan atas lainnya kompak melemah akibat tekanan sentimen global, mulai dari memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran hingga ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada pukul 05.50 WIB, kapitalisasi pasar kripto global merosot 0,6 persen menjadi US$2,54 triliun. Bitcoin sebagai aset dengan kapitalisasi pasar terbesar terpantau turun 0,53 persen ke posisi US$75.539 per koin. Jika kita konversikan ke rupiah dengan kurs Rp17.140, maka harga Bitcoin saat ini setara dengan Rp1,29 miliar.

Sentimen negatif ini tidak hanya memukul Bitcoin. Indeks CoinDesk 20 yang melacak pergerakan 20 aset kripto terbesar di dunia tercatat jatuh 0,64 persen. Mayoritas koin alternatif atau altcoin turut merasakan hantaman keras dari aksi jual investor.

Ethereum (ETH) tercatat terpangkas 0,42 persen ke level US$2.309, sementara Binance Coin (BNB) melemah tipis 0,11 persen ke posisi US$628. Penurunan lebih dalam menimpa Dogecoin (DOGE) yang anjlok 1,35 persen ke US$0,094. Sementara itu, Solana (SOL) terkoreksi 0,45 persen ke angka US$85,29, dan XRP menyusut 0,36 persen ke level US$1,42 per koin.

Melansir laporan CoinDesk, Bitcoin sebenarnya sempat bertahan di atas level US$77.000 pada awal sesi perdagangan. Namun, tekanan jual yang masif saat pembukaan pasar AS menyeret harga mendekati level psikologis US$75.000. Meski sempat melakukan rebound tipis ke kisaran US$75.700, posisi ini masih mencerminkan pelemahan sekitar 0,9 persen dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Drama Geopolitik AS-Iran

 

Pelemahan ini selaras dengan meningkatnya sikap hati-hati para pelaku pasar yang mencermati dinamika negosiasi damai antara AS dan Iran. Ketidakpastian makin meruncing setelah muncul laporan bahwa rencana kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan damai terpaksa mengalami penundaan.

Situasi makin keruh saat pemerintah AS justru menjatuhkan sanksi baru terhadap 14 individu, entitas, hingga pesawat yang diduga terlibat dalam pengiriman senjata untuk Iran. Langkah konfrontatif ini menambah beban geopolitik di pasar keuangan global, sehingga investor cenderung menghindari aset berisiko seperti kripto.

Dari sisi moneter, perhatian investor tertuju sepenuhnya pada sidang uji kelayakan Kevin Warsh sebagai calon kuat Ketua The Fed. Dalam sidang di hadapan Senat, Warsh menegaskan komitmennya untuk menjaga independensi bank sentral dari intervensi politik, terutama dalam menentukan arah suku bunga.

“Saya tidak pernah memberi tahu Presiden ke arah mana saya melihat suku bunga, dan saya tidak akan melakukannya,” tegas Warsh di depan para senator.

Warsh juga mengklarifikasi bahwa Presiden AS Donald Trump tidak pernah memintanya untuk menetapkan keputusan suku bunga tertentu selama diskusi mereka. Kendati demikian, pasar tetap merasa khawatir lantaran Trump beberapa kali secara terbuka mendorong penurunan suku bunga secara agresif. Dinamika ini memicu kekhawatiran mengenai netralitas bank sentral dalam menghadapi inflasi di masa depan.

 

Saham Kripto Ikut Terbakar

 

Tekanan di pasar kripto merembet cepat ke pasar ekuitas. Indeks Nasdaq Composite dan S&P 500 yang sempat menguat di awal sesi akhirnya berbalik melemah. Saham-saham yang memiliki eksposur langsung terhadap industri kripto mengalami koreksi yang jauh lebih dalam.

Saham bursa kripto Coinbase anjlok lebih dari 6 persen, sementara Robinhood menyusut sekitar 4,5 persen. Perusahaan investasi aset digital milik Mike Novogratz, Galaxy Digital, juga merosot 5,5 persen. Bahkan, emiten pendukung stablecoin, Circle, harus rela terjun bebas hingga 8,3 persen pada sesi perdagangan kali ini.

Optimisme Jangka Panjang: Target US$100 Ribu
Meski tertekan dalam jangka pendek, banyak analis tetap melihat masa depan Bitcoin dengan optimisme tinggi. Analis dari 21Shares mengungkapkan bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar pada paruh kedua 2026 berpotensi menciptakan likuiditas tinggi di pasar. Secara historis, kondisi likuiditas yang melimpah selalu menguntungkan aset seperti Bitcoin.

Menariknya, Kevin Warsh yang merupakan calon bos The Fed, dikenal memiliki pandangan positif terhadap aset digital. Ia bahkan menyebut Bitcoin sebagai “emas baru bagi generasi di bawah usia 40 tahun”. Jika kebijakan pelonggaran moneter benar-benar terjadi akhir tahun ini, para pengamat meyakini Bitcoin masih memiliki peluang besar untuk menembus level prestisius US$100.000.

Bagikan
Written by
Ari Nur Cahyo

Penulis di FIN Corp sejak Maret 2022 yang fokus mengeksplorasi dunia Teknologi, Sepak Bola, dan Anime. Memiliki ketertarikan kuat pada isu-isu viral, ia berkomitmen menghadirkan konten yang segar, informatif, dan relevan dengan tren masa kini.

Artikel Terkait
Market

Harga Tiket DAMRI Palembang ke Lampung 2026 Terbaru, Lengkap Cara Pesan Online

finnews.id – Perjalanan darat dari Palembang menuju Lampung masih menjadi pilihan favorit...

Ilustrasi Saham ESG Terbaik 2026 (bakerinstitute)
Market

Daftar Saham ESG Terbaik 2026: Investasi Cuan Sekaligus Berdampak Positif

finnews.id – Saham ESG terbaik adalah perusahaan yang tidak hanya kuat secara finansial,...

IHSG hari ini melemah ke 7.528 akibat gagalnya damai AS-Iran. Harga minyak terbang ke USD90,5 dan Rupiah nyungsep ke Rp17.142 per Dolar AS.
Market

Gawat! IHSG Hari Ini Nyungsep ke Zona Merah, Perdamaian AS-Iran Kabur Bikin Harga Minyak Dunia Meledak

finnews.id – Kabar kurang sedap kembali menghantam pasar modal Indonesia pagi ini....

Laba ANTM diprediksi meroket 172% pada 1Q26 akibat harga nikel dan emas yang melambung.
Market

Gawat! Harga Nikel Dunia Terbang Tinggi, Saham ANTM Diramal Bakal Kasih Kejutan Cuan Paling Gila!

finnews.id – Pernahkah kamu membayangkan harga nikel dan emas meroket bersamaan tepat...