finnews.id – Kabar mengejutkan datang dari pasar energi global. Harga minyak mentah dunia kembali melorot tajam pada perdagangan Jumat (17/4/2026). Sentimen optimisme perdamaian di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama mendinginnya suhu pasar yang sebelumnya sempat mendidih. Para investor kini mulai melepas posisi mereka seiring meredanya kekhawatiran atas gangguan pasokan energi dunia.
Harga si emas hitam ini rontok setelah munculnya titik terang dalam diplomasi internasional. Gencatan senjata antara Lebanon dan Israel serta sinyal pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi katalisator utama. Penurunan ini tentu menjadi angin segar bagi ekonomi global yang sempat tercekik kenaikan biaya energi pada bulan-bulan sebelumnya.
Brent dan WTI Kompak Memerah: Sinyal Pasar Mulai Tenang
Berdasarkan data pasar terbaru, minyak mentah berjangka Brent yang menjadi patokan internasional terkoreksi sebesar 87 sen atau setara 0,88%. Angka ini membawa Brent parkir di level USD98,52 per barel. Penurunan ini cukup signifikan mengingat Brent sempat bertahan di level yang jauh lebih tinggi selama beberapa pekan terakhir.
Kondisi serupa terjadi pada patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI). Minyak WTI melorot lebih dalam, yakni sekitar USD1,14 atau 1,20% ke posisi USD93,55 per barel. Koreksi ini sekaligus memangkas keuntungan yang sempat diraih pada sesi perdagangan sebelumnya. Meskipun mulai turun ke bawah level psikologis USD100 per barel, harga minyak sepanjang pekan ini sebenarnya masih tertahan di kisaran USD90-an setelah lonjakan rekor 50% pada Maret lalu.
Efek Trump dan Sinyal Pertemuan Diplomatik dengan Iran
Mengapa pasar tiba-tiba mendingin? Jawabannya ada pada pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Di luar Gedung Putih, Trump memberikan sinyal kuat bahwa Washington sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran. Pernyataan ini menjadi “obat penenang” bagi pasar yang selama tujuh minggu terakhir tegang akibat penutupan Selat Hormuz.
Trump mengungkapkan bahwa Iran menawarkan komitmen untuk tidak memiliki senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun. “Kita akan lihat apa yang terjadi. Tetapi saya pikir kita sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” ujar Trump kepada media. Pernyataan ini memberikan harapan besar bahwa jalur pasokan minyak yang memutus sekitar seperlima pasokan dunia tersebut akan segera pulih total.
Gencatan Senjata Lebanon-Israel Jadi Kunci Utama
Selain faktor Iran, berlakunya gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel mulai Jumat ini turut meredakan tensi geopolitik. Sebelumnya, kampanye militer di wilayah tersebut menjadi penghalang utama bagi upaya perdamaian komprehensif yang tengah diupayakan oleh negosiator internasional.
Meski begitu, para pelaku pasar tetap waspada. Fokus diplomasi saat ini bergeser dari kesepakatan perdamaian menyeluruh ke arah memorandum sementara. Targetnya jelas: mencegah konflik kembali pecah dan memastikan keamanan jalur distribusi energi tetap terjaga. memorandum ini diharapkan menjadi solusi jangka pendek untuk menghentikan perang yang sempat mengganggu stabilitas kawasan sejak akhir Februari lalu.
Nasib Selat Hormuz dan Pasokan Minyak Global
Penutupan Selat Hormuz selama hampir dua bulan terakhir memang memberikan dampak yang sangat destruktif bagi pasar. Analis dari ING memperkirakan ada gangguan aliran minyak sekitar 13 juta barel per hari akibat konflik tersebut. Jalur ini merupakan urat nadi pasokan energi dunia yang paling sibuk.
Jika kesepakatan sementara ini berjalan mulus, pasokan yang sempat tersendat akan kembali mengalir lancar ke pasar global. Namun, ketidakpastian tetap ada. Investor kini menanti detail dari pertemuan diplomatik akhir pekan ini untuk menentukan arah pergerakan harga minyak pekan depan. Apakah penurunan ini akan berlanjut, atau justru kembali rebound jika diplomasi menemui jalan buntu? (*)