finnews.id – Setelah sempat mencatat reli yang mengesankan, wajah pasar modal Asia kini berubah lesu pada perdagangan Jumat, 17 April 2026. Para pemodal cenderung menarik diri dan bersikap waspada sembari memantau perkembangan terbaru dari meja perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Penurunan indeks di kawasan Asia ini terjadi tepat setelah pasar mencapai rekor tertinggi pada pekan lalu.

Sentimen positif yang sebelumnya dipicu oleh pernyataan Donald Trump bahwa kesepakatan damai sudah “hampir tercapai”, kini berganti dengan kekhawatiran akan stabilitas gencatan senjata yang dianggap masih sangat rapuh.

Optimisme Trump dan Bayang-bayang Blokade

Presiden AS, Donald Trump, sebenarnya masih menyuarakan nada optimistis. Di Gedung Putih, ia mengeklaim bahwa Iran telah setuju untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya atau yang ia sebut sebagai “debu nuklir”.

Trump bahkan menjanjikan adanya pasokan “minyak gratis” serta pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.

“Tampaknya sangat baik bahwa kita akan membuat kesepakatan dengan Iran, dan itu akan menjadi kesepakatan yang bagus,” ujar Trump di hadapan media.

Namun, di sisi lain, nada ancaman masih terdengar dari Pentagon. Menteri Pertahanan Pete Hegseth memperingatkan bahwa jika diplomasi menemui jalan buntu, AS tidak segan menjatuhkan bom pada infrastruktur energi dan listrik Teheran.

Kontradiksi ini membuat pelaku pasar ragu, apalagi pihak Iran sendiri belum memberikan pernyataan publik secara resmi terkait kesediaan mereka menyerahkan bahan nuklir tersebut.

Gencatan Senjata Israel-Lebanon Memberi Napas Lega

Meski pasar saham tertekan, ketegangan di front lain sedikit mereda. Gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon resmi berlaku sejak Kamis malam. Langkah ini bertujuan untuk menghentikan saling serang yang melibatkan kelompok Hizbullah sejak bulan lalu.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut momen ini sebagai peluang untuk menciptakan “kesepakatan perdamaian bersejarah.”

Meskipun demikian, ia tetap memberikan syarat ketat terkait pelucutan senjata Hizbullah. Hal ini menambah daftar panjang ketidakpastian yang harus dikalkulasi oleh para investor sebelum kembali masuk ke pasar aset berisiko.