finnews.id – Pemimpin Israel dan Lebanon kabarnya akan segera melakukan pembicaraan langsung untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir. Kabar mengejutkan ini datang langsung dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social.
Trump mengungkapkan bahwa komunikasi antara kedua negara tersebut bertujuan untuk memberikan stabilitas di kawasan Timur Tengah. Trump menekankan betapa pentingnya dialog ini karena kedua negara sudah tidak berkomunikasi secara resmi dalam waktu yang sangat lama.
“Mencoba untuk memberi sedikit ruang bernapas antara Israel dan Lebanon. Sudah lama sejak kedua pemimpin berbicara, sekitar 34 tahun. Itu akan terjadi besok. Bagus!” tulis Trump dalam unggahannya.
Langkah ini menyusul pertemuan langka yang melibatkan duta besar kedua negara di Washington DC pada hari Selasa lalu. Pertemuan tersebut fokus membahas upaya gencatan senjata guna meredam eskalasi konflik yang terus memanas.
Konteks Konflik dan Penyangkalan dari Beirut
Meskipun klaim Trump terdengar sangat optimistis, pihak Lebanon memberikan respons yang lebih berhati-hati. Melansir data dari AFP/sz, sebuah sumber resmi menyatakan pada hari Kamis bahwa Lebanon “tidak mengetahui” adanya rencana kontak langsung dengan pihak Israel dalam waktu dekat.
Perlu kita ketahui, Lebanon terseret ke dalam lingkaran konflik sejak 2 Maret lalu, tepat setelah Hizbullah meluncurkan serangan ke wilayah Israel. Dampak dari perang ini sangat mematikan. Serangan udara Israel, termasuk serangan besar di Beirut pada 8 April, telah mengakibatkan:
-
Lebih dari 2.000 orang kehilangan nyawa.
-
Lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Hubungan Diplomatik yang Rumit
Secara teknis, Israel dan Lebanon masih berada dalam status perang sejak tahun 1948 dan tidak memiliki hubungan diplomatik formal. Sejarah mencatat Israel pernah menduduki wilayah Lebanon Selatan selama 18 tahun, terhitung dari tahun 1982 hingga 2000.
Namun, harapan akan perdamaian sebenarnya sempat muncul pada tahun 2022. Saat itu, kedua negara berhasil mencapai kesepakatan batas maritim melalui pembicaraan yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Jika dialog yang Trump umumkan benar-benar terjadi, ini akan menjadi tonggak sejarah baru bagi stabilitas keamanan di wilayah tersebut.