Home Sudut Pandang Jejak Roda di Garut: Sebuah ‘Plot Twist’ Kencan Buta di Kota Intan
Sudut Pandang

Jejak Roda di Garut: Sebuah ‘Plot Twist’ Kencan Buta di Kota Intan

Bagikan
Bagikan

finnews.id – Deru mesin Honda Supra X125 memecah sunyi jalur Puncak menuju Cianjur tepat saat jarum jam menyentuh angka sepuluh malam. Bagi sebagian orang, menempuh perjalanan Jakarta-Garut dengan motor bebek tua mungkin terdengar melelahkan. Namun, bagi petualang urban yang mencari jeda di tengah hiruk-pikuk ibu kota, aspal hitam dan angin malam adalah kawan terbaik.

Namun, siapa sangka, perjalanan yang awalnya bertujuan untuk belajar sebagai penulis kreatif terdapat sebuah kisah tentang pertempuan aplikasi kencan dan sebauh kebetulan yang nyaris mustahil.

Saya Sutan Maulana ingin menghadiri undangan workshop penulisan naskah situasi komedi (sitcom) di Kabupaten Garut. Tanpa mikir panjang akupun memutuskan mengeluarkan motor kesayanganku Honda Supra x125 dan membelah dinginnya Jawa Barat sendirian demi menuntaskan dunia kreatis.

Saya berkendara malam hari untuk menghindari kemacetan horo di jaluir Kalimalang-Depok. Rute klasik pun terbentang: Bogor, Puncak, Cianjur, hingga Padalarang. Ritual wajib bagi para pemotor jarak jauh tak terlewatkan—berhenti sejenak di Cianjur untuk menyantap semangkuk bubur hangat demi mengusir kantuk dan mengganti energi yang terkuras udara pegunungan.

“Biasanya perjalanan memakan waktu lima hingga enam jam. Tapi kali itu, saya baru tiba di Garut pukul delapan pagi karena sempat ‘terkapar’ mengantuk di emperan SPBU Rancaekek,” ucap Sutan.

Sampai sekitar jam 7 pagi di Garut, saya menuju lokasi workshop di sebuah hotel pusat kota. Hanya sempat cuci muka dan mengganti pakaian. Sampai disana saya mengikuti workshop sampai sore hari.

Kondisi yang masih lelah tidak mungkin diriku untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta, adrenalin petualangan mulai bergejolak. Akupun isen untuk membuka aplikasi kencan untuk mendapatkan jodoh di Garut.

Melalui aplikasi tersebut, aku terhubung dengan dua wanita lokal di waktu yang hampir bersamaan. Mari kita sebut mereka Si Seli dan Si Sela.

 

Berkencan dengan Wanita Garut

Sutan Maulana

 

 

Si Sela adalah seorang pekerja kantoran yang tampak dewasa dan terstruktur, sementara Si Sela merupakan mahasiswi yang energik dan penuh rasa ingin tahu. Akupun melakukan pertemuan pertama dengan Si Sela di sebuah gang dekat pusat kota.

“Kesan pertamanya agak kagok, tapi dia tampak berani menemui orang asing,” ujarnya.

Sela orangnya menarik, dia terbuka untuk berkomunikasi sehingga kita tidak kehabisan cerita. Selain itu dia berparas wajah Sunda yang ayu dengan hijab yang menutup kepalanya serta pakaiannya seperti wanita karier yang memakai kemeja dan celana jens.

Saat itu kita bertemu di sebuah kedai kopi populer di Garut bernama Coffe Balong. Tempatnya cukup menyejukan dengan pemandangan alam yang memuka, lengkap dengan hamparan danau yang menyejukkan. Situasi semakin sejuk ketika melihat senyuman Sela yang sambil mengaduk kopi pesanannya.

Malam itu terasa panjanh kita bertukar cerita tentang kehidupan Jakarta dan dinamika warga lokal Garut, sebelumn akhirnya saya mengatar wanita cantik ini kembali ke rumahnnya yang saya turunkan depan gang. Setelah mengantar Sela pulang sayapun bergegas mengeluarkan handphone untuk chattingan dengan si Seli untuk berjumpa besok.

 

Seli yang Hyper Aktif

 

Keesokan harinya, Seli yang mengisi agenda pertemuannya, ia mengajak saya sarapan bertemu saat jam sarapan dengan menu kupat tahu legendaris di depan kampusnya. Penampilan Seli berbeda dengan Sela yang pertama kali saya temui. Seli lebih muda dan berpakaian sepertinya mahasiswa yang mengenakan kerudung serta flanel dan celana jensnya.

Hari itu terasa lebih santai saya menemani Seli untuk menyelesaikan urusan administrasi di kampus sebelum melanjutkan sesi mengobrol di kafe kekinian.

“Si Seli ini lebih ekspresif, banyak bertanya, dan sangat asyik untuk diajak jalan spontan,” tuturnya.

Namun, seiring matahari terbenam dan waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Seharian bersama Seli membuat diriku jantuh cinta ketimbang dengan si Sela.

“Kalo sama Sela lebih dewasa berbeda dengan Seli yang penuh penasaran, Sampai akhirnya gua masih pengen menginap lagi di Garut dan jalan bareng lagi sama Seli” ungkap Pria asal Pondok Kelapa.

“karena gue masih berharap akhirnya asik deh kalau jalan sama si Seli satu hari lagi lu lebih tertarik,” sambungnya.

Ketika hari sudah malam akupun harus mengatar Seli pulan, sebuah firasat aneh mulai muncul. Saat Si Seli meminta diantarkan pulang, ia memberikan arahan jalan yang terasa tidak asing.

“Berhenti di depan gang itu saja, rumahku masuk ke dalam,” kata Si Seli.

Saat itulah jantungnya berdetak. Ia menyadari bahwa ia baru saja menurunkan Si Seli di gang yang identik—bahkan mungkin tepat di titik yang sama—dengan tempat ia menurunkan Si Sela malam sebelumnya.

Rahasia di Balik Fitur ‘Follow’ Instagram

Firasat buruk bahwa kedua wanita ini saling mengenal mulai menghantui. Khawatir terjebak dalam situasi yang canggung atau bahkan skenario “penjebakan” oleh warga lokal, ia memutuskan untuk segera membatalkan rencana menginap tambahan. Malam itu juga, ia memacu motornya kembali menuju Jakarta.

Rasa penasaran yang tak terbendung membawanya melakukan investigasi mandiri saat beristirahat di daerah Limbangan. Selama ini, mereka hanya berkomunikasi lewat obrolan singkat tanpa mengetahui media sosial masing-masing. Ia kemudian memberanikan diri meminta akun Instagram Si Sela.

Hasilnya mengejutkan. Saat menelusuri unggahan lama Si A, ia menemukan sebuah foto yang memperlihatkan Si Sela dan Si Seli sedang berpose akrab. “Ternyata mereka adalah sahabat karib, bahkan bisa dibilang bestie,” ungkapnya sambil tertawa mengenang kejadian tersebut.

Ia mencoba mengonfirmasi hal tersebut dengan bertanya secara halus kepada Si Sela. Jawaban Si A mengunci segala keraguan: “Oh, itu sahabat terbaikku.” Tanpa menunggu drama lebih lanjut, saya memilih untuk “menghilang” perlahan atau ghosting demi menghindari konflik yang lebih rumit di antara dua sahabat tersebut.

Pelajaran dari Balik Layar Gawai

Kisah unik ini menjadi pengingat bagi para pengguna aplikasi kencan mengenai betapa sempitnya dunia, terutama di kota yang tidak terlalu besar seperti Garut. Meskipun aplikasi kencan menawarkan kemudahan untuk bertemu orang baru, faktor keamanan dan etika tetap menjadi hal utama.

Keberanian kedua wanita tersebut untuk bertemu orang asing hanya berdasarkan foto dan percakapan singkat juga menjadi sorotan. Di satu sisi, keramahan warga lokal Garut patut diacungi jempol, namun di sisi lain, potensi bahaya selalu mengintai di balik layar ponsel.

Kini, bertahun-tahun setelah kejadian itu, sang pria hanya bisa tersenyum saat melewati gang tersebut. Baginya, Garut bukan lagi sekadar kota dengan dodol dan pemandangan gunung yang indah, melainkan tempat di mana sebuah plot twist kehidupan nyata pernah ia jalani di atas jok motor Supra X125 kesayangannya.

Bagikan
Artikel Terkait
Dinasti Giovani
Sudut Pandang

Dinasti Giovani

Oleh: Sigit Nugroho Jangan pernah hitung pengeluaran untuk keluarga. Jangan sekali-kali. Kalau...

Sudut Pandang

Waduk Jatiluhur: Spot Ekowisata sekaligus Sumber Air Baku Utama Jakarta dan Bekasi

Bendungan Jatiluhur, atau Waduk Ir. H. Djuanda, merupakan bendungan terbesar di Indonesia...

Sudut Pandang

Gua Maria Kanada di Rangkasbitung, Salah Satu Destinasi Wisata Religi Jawa Barat

Di Rangkasbitung, Lebak terdapat destinasi wisata religi yang buka 24 jam. Tempat...

9 Muazin saat melantunkan azan secara bersamaan
Sudut Pandang

9 Bedug, 9 Azan, Ada Jejak Wali Songo di Masjid Tajug Gede Cilodong Purwakarta

Ada Masjid yang menyuarakan azan dengan 9 muazin sekaligus jelang Salat Jumat....