finnews.id – Jagat media sosial mendadak panas. Platform raksasa seperti TikTok dan Instagram kini dibanjiri dukungan masif untuk mantan Direktur Utama PT Indofarma, Arief Pramuhanto. Fenomena munculnya tagar #BebaskanArief menjadi bukti nyata bahwa publik mencium aroma tidak sedap dalam penegakan hukum yang menimpa sang profesional kawakan tersebut.
Sebuah video emosional berjudul “Perkenalkan, Saya Arief Pramuhanto” viral di akun Bebaskan Arief, menembus angka 61,8 ribu tontonan hanya dalam waktu singkat pada Jumat (3/4/2026) sore. Sementara itu, di Instagram, video yang merekam jejak perjuangan Arief menyelamatkan nyawa saat pandemi Covid-19 telah meledak hingga ditonton lebih dari 204 ribu kali. Netizen kini mulai mempertanyakan: benarkah pahlawan pandemi justru berakhir menjadi korban kriminalisasi?
Dukungan Masif Netizen: “Jangan Mau Gabung BUMN!”
Kolom komentar dipenuhi kegeraman warga digital. Banyak yang menyuarakan kekhawatiran terhadap nasib para profesional yang mencoba mengabdi di perusahaan pelat merah. Akun @anggapratamaxx menuliskan keresahannya, “Makanya kalo ada profesional disuruh gabung ke BUMN jangan mau gaesss, yang ada dikriminalisasi karena pergantian rezim, susah maju negeri ini kalo kayak gini terus.”
Senada dengan itu, akun @Yrel11 juga menyindir keras realita bekerja di pemerintahan yang ia sebut seperti menaruh kaki sebelah di penjara. Publik melihat ada kejanggalan besar dalam vonis yang dijatuhkan, terutama terkait peran Arief sebagai komisaris utama di anak usaha PT Indofarma Global Medika (IGM) saat kasus pengadaan alat kesehatan (alkes) itu terjadi.
Rekam Jejak Cemerlang yang Berujung Jeruji Besi
Sebelum terjun ke BUMN, Arief Pramuhanto merupakan profesional murni dengan karier 25 tahun di berbagai perusahaan multinasional bergengsi seperti Standard Chartered Bank, Andersen Consulting, hingga Frisian Flag. Pada Mei 2019, ia menerima tantangan berat memimpin PT Indofarma yang kala itu terancam pailit dan merugi parah.
Hasilnya luar biasa. Hanya dalam waktu singkat, Arief membawa Indofarma mencetak laba Rp 7,9 miliar di akhir 2019. Saat pandemi menghantam, ia berdiri di garda terdepan bersama Bio Farma dan Kimia Farma untuk memastikan ketersediaan masker, obat, dan vaksin bagi rakyat Indonesia. Namun, dedikasi tersebut justru dibalas dengan tuduhan korupsi tata kelola alkes di IGM yang merugikan negara sebesar Rp 377 miliar.