finnews.id – Pun sebelum pecah perang IsAm – Iran: Arab Saudi tidak ngotot lagi dengan Neom. Proyek raksasa bengkak itu tetap dilanjutkan tapi banyak revisi. Banyak dilakukan pemotongan anggaran.
Apalagi setelah pecah perang sejak 28 Februari lalu: kian menguatkan bahwa putusan revisi itu tepat.
Pun negara sekaya Arab Saudi: tidak malu merevisi program kalau itu baik untuk keuangan negara. Keberanian Muhammad bin Salman menurunkan ambisinya di Neom sungguh mengagumkan: tidak perlu malu dengan apa yang pernah digembar-gemborkannya di proyek Neom. Yang saya pun sampai tertarik ke sana –perlu satu harmal dari Madinah naik bus dan mobil omprengan baru sampai di sana.
Itu sudah dua tahun berlalu. Sebenarnya sudah waktunya ke Neom lagi. Tapi saya putuskan belum akan ke Neom. Yakni setelah saya baca berita ini sebelum berangkat ke Makkah bulan lalu: Neom batal jadi tuan rumah ”Asian Games”.
Pesta olahraga musim dingin Asia 2029 itu pindah ke Almaty, Kazakhstan.
Anda sudah bisa menduga penyebabnya: penyelesaian proyek Neom tidak bisa tepat waktu. Proyek ini keterlaluan besarnya. Megahnya. Mewahnya. Dan besarnya biayanya.
Total ada tujuh proyek di Neom. Besar semua. Serba yang terhebat di dunia. Mulai kota baru yang unik, The Line, sampai pabrik hidrogen terbesar di dunia.
Ada juga stadion istimewa untuk Piala Dunia sepak bola tahun 2034. Ada wisata puncak, termasuk arena ski dengan salju yang direkayasa –yang batal untuk Asian Games Musim Dingin itu. Masih ada pusat rekreasi sepanjang pantai dekat Neom. Ada lagi industrial estate: khusus untuk industri teknologi tinggi dan kehidupan masa depan manusia.
Terlalu besar. Skalanya maupun cakupannya. Lalu diadakan koreksi. Penghematan.
Pun negara sekaya Arab Saudi tidak malu ”berhemat”. Bisa saja arena ski dengan salju buatan di Neom itu ditunda. Bahkan dibatalkan. Terlalu fantastis.
Yang akan diwujudkan pertama kelihatannya “kota baru” Neom: The Line. Dan stadion sepak bola Piala Dunia.
The Line pun akan dihemat. Dikurangi ukuran panjang kotanya.