finnews.id – Menjelang Ramadan, seiring upaya pemulihan pascabencana banjir dan longsor di Sumatra, Kementerian Agama memastikan kesiapan rumah ibadah dan lembaga pendidikan keagamaan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Hal ini disampaikan dalam rapat koordinasi tingkat menteri yang digelar di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Jakarta, Jumat, 2 Januari 2026.
Berdasarkan data yang dipaparkan Menteri Agama Nasaruddin Umar, dari total 1.137 rumah ibadah terdampak di tiga provinsi tersebut, sebagian besar sudah kembali berfungsi.
Di Aceh, dari 878 rumah ibadah terdampak, sebanyak 703 telah beroperasi, sementara 175 lainnya masih dalam proses pemulihan. Di Sumatera Utara, 112 dari 137 rumah ibadah sudah digunakan kembali, dan di Sumatera Barat hampir seluruhnya pulih, dengan 120 dari 122 rumah ibadah telah beroperasi.
Kemenag juga menyalurkan berbagai bantuan sarana ibadah untuk mendukung aktivitas keagamaan masyarakat, seperti karpet atau hambal, sajadah, mukena, serta ribuan mushaf Al-Qur’an. Total mushaf yang disalurkan mencapai 9.000 unit di tiga provinsi.
Kemenag Prioritaskan Kesiapan KMB
Selain rumah ibadah, Kemenag memprioritaskan kesiapan kegiatan belajar mengajar (KBM) di lembaga pendidikan Islam. Tercatat 500 madrasah terdampak bencana, dengan total 112.964 siswa dan lebih dari 12 ribu guru serta tenaga kependidikan.
Dari jumlah tersebut, 435 madrasah atau sekitar 87 persen dinyatakan siap melaksanakan KBM, sementara 65 madrasah lainnya masih belum siap karena mengalami kerusakan berat, kehilangan sarana pembelajaran, atau proses pembersihan yang belum selesai.
“Prinsip kami, layanan keagamaan dan pendidikan tidak boleh terhenti. Dalam kondisi darurat, kita siapkan kelas sementara, pembelajaran bergantian, dan berbagai skema agar anak-anak tetap bisa belajar,” ujar Menag Nasaruddin Umar dalam paparan rapat tersebut.
Ia menegaskan, pemulihan kegiatan sosial keagamaan menjadi perhatian utama Kemenag, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri. Menurutnya, rumah ibadah dan madrasah bukan hanya tempat ibadah dan belajar, tetapi juga pusat pemulihan sosial masyarakat pascabencana.