finnews.id – Peringatan keras kembali disampaikan oleh Menteri Lingkungan Brasil, Marina Silva, setelah COP30 di Belem. Dalam pandangannya, upaya iklim selama puluhan tahun dinilai masih belum memadai. Dunia dianggap sudah melewati masa ketika waktu bisa dibeli melalui langkah lambat. Kini hanya tersisa celah tindakan yang sangat sempit sebelum kondisi kehidupan di bumi berubah secara permanen.
Upaya Iklim Tiga Dekade: Ada Hasil Namun Belum Cukup
Marina menjelaskan bahwa berbagai kesepakatan global termasuk Perjanjian Paris telah memberi manfaat besar karena tingkat kerusakan dapat ditahan agar tidak berkembang lebih parah. Tanpa upaya itu pemanasan global diperkirakan dapat mencapai empat derajat celcius dan jutaan nyawa, sistem pangan, sistem energi, serta wilayah yang kaya keanekaragaman hayati mungkin telah memasuki krisis yang lebih berat.
Meski ada manfaat yang dirasakan, kondisi nyata di lapangan tetap menunjukkan bahwa hasilnya belum sebanding dengan besarnya ancaman. Kekeringan ekstrem yang melanda Amazon selama tiga tahun terakhir memperlihatkan sungai besar yang mengering, ikan mati, serta komunitas yang terisolasi. Hal ini membuat perubahan iklim dipahami bukan sebagai ancaman masa depan, tetapi fenomena yang sedang terjadi saat ini.
COP30 di Belem: Harapan Tinggi Namun Tekanan Kuat
Lebih dari delapan puluh negara mendukung dorongan besar untuk memulai transisi terencana dari bahan bakar fosil serta menghentikan deforestasi. Gagasan tersebut dianggap sejalan dengan pandangan ilmuwan dan didorong oleh Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, dengan Marina sebagai penggerak utama.
Namun usulan ini dihapus dari keputusan akhir akibat penolakan negara produsen minyak. Meskipun begitu Brasil tetap akan mendorong pembahasan peta jalan transisi selama tahun berikutnya. Marina menilai langkah itu sebagai awal penting meskipun belum mencapai hasil yang ideal.
Tantangan antara Kepentingan Ekonomi dan Kelestarian Alam
Marina menyoroti bahwa kekuatan ekonomi ekstraktif masih menjadi hambatan besar. Di Brasil sendiri beberapa keputusan politik yang melemahkan perlindungan lingkungan disahkan tidak lama setelah COP30 selesai. Menurutnya persoalan iklim bukan semata persoalan teknis atau ekonomi, tetapi menyangkut nilai etis yang menentukan arah keputusan global.
Tanda Bahaya yang Sudah Tampak
Marina menjelaskan bahwa berbagai fenomena ekstrem seperti kebakaran besar, gelombang panas, badai kuat, gagal panen, serta penurunan kapasitas pembangkit listrik tenaga air seharusnya sudah cukup menjadi peringatan. Ia menegaskan bahwa manusia mengetahui ancaman yang sedang bergerak menuju mereka, memahami apa yang harus dilakukan, serta memiliki kemampuan untuk bertindak, namun belum menjalankan langkah yang diperlukan.
Langkah Brasil dalam Beberapa Tahun ke Depan
Brasil berencana memimpin upaya transisi yang lebih kuat. Pemerintah akan mendorong pembahasan global mengenai peta jalan transisi bersih, mengikuti konferensi internasional tentang transisi berkeadilan di Kolombia, serta menunjukkan bahwa ekonomi tetap dapat tumbuh tanpa merusak hutan. Marina mencontohkan bagaimana deforestasi Amazon menurun setengahnya dalam tiga tahun terakhir sementara agribisnis tetap tumbuh.
Penutup
Marina menegaskan bahwa jika dunia tidak memperkuat tindakan sekarang, manusia akan bergerak menuju kondisi yang tidak dapat dibayangkan dan melemahkan dasar utama kehidupan. Menurutnya dunia masih memiliki kesempatan untuk bertindak, tetapi celah itu semakin sempit setiap hari.
Referensi:
The Guardian – ‘Our efforts are still insufficient’: Brazil’s Marina Silva warns world is running out of time to act on climate crisis