fin.co.id – Fenomena berbelanja di luar negeri saat ini tengah menjadi fenomena yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, penggunaan produk-produk keluaran luar negeri sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Namun menurut Ekonom sekaligus Pakar Kebijakan Publik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, kebiasaan ini sendiri bukanlah sekadar tren, melainkan sebuah pola konsumsi yang membawa dampak besar terhadap perekonomian nasional.
“Ketika masyarakat Indonesia, terutama kelompok ekonomi menengah ke atas, lebih memilih membelanjakan uangnya di luar negeri, aliran devisa yang seharusnya bisa mendukung perekonomian dalam negeri justru mengalir keluar,” jelas Achmad ketika dihubungi, Kamis 16 Januari 2025.
- Siap-Siap Mudik Lebaran 2026! ASTRA Infra Tebar Diskon Tol 30 Persen dan Siapkan Jalur Anti-Macet
- Mudik 2026: Astra Infra Pastikan Kesiapan 29 Rest Area dan 500 CCTV untuk 6,8 Juta Kendaraan
- Ankara: Sistem Pertahanan NATO Cegat Rudal Balistik Iran di Wilayah Udara Turki
- ASTRA Infra Siap Hadirkan Indahnya Kebersamaan di Momen Lebaran 2026
- Update Tragedi Longsor TPST Bantargebang: Korban Tewas Bertambah Jadi 5 Orang
Menurut Achmad, salah satu alasan utama mengapa produk lokal kurang diminati adalah kualitas yang dianggap masih kalah dibandingkan dengan produk impor.
Konsumen Percaya Barang Buatan Luar Negeri
Dalam hal ini, banyak konsumen kaya Indonesia percaya bahwa barang-barang buatan luar negeri lebih tahan lama, lebih inovatif, dan memiliki desain yang lebih menarik.
“Kebiasaan berbelanja di luar negeri sering kali dipicu oleh beberapa faktor, seperti ketersediaan produk yang lebih lengkap, harga yang lebih kompetitif, dan persepsi bahwa barang impor memiliki kualitas yang lebih baik,” jelas Achmad.
Kendati begitu, Achmad juga menambahkan bahwa di balik kenyamanan dan pengalaman berbelanja ini, ada konsekuensi serius terhadap ekonomi Indonesia.
Dalam hal ini, setiap transaksi yang dilakukan di luar negeri berarti aliran uang yang keluar dari negeri ini. Fenomena ini disebut sebagai kebocoran devisa, yaitu kondisi ketika uang dari suatu negara lebih banyak mengalir keluar dibandingkan yang masuk.
“Kebocoran devisa dalam jumlah besar dapat menyebabkan defisit neraca pembayaran yang memperlemah stabilitas ekonomi,” tutur Achmad.