Seorang eksporter lainnya, Deddy Effendy, bercerita: kini ia selalu minta bantuan AI untuk membuatkan desain produk kerajinan yang baru. Ia tidak punya lagi karyawan bidang desain.

“Dalam sebulan berapa kali minta bantuan desain dari AI?”

“Tiap hari pak,” jawabnya.

“Hah? Tiap hari?”

“Iya pak”.

“Sebulan berapa desain yang dibuat AI?”

“Bisa 60 desain pak”.

“Hahaha…”.

Itulah peran AI di perusahaannya. Ia belum memanfaatkan AI untuk memperluas marketing.

Satu eksporter lagi, Johni Sahlab, mengombinasikan AI dengan cara tradisional. Termasuk dalam melihat dari mana datangnya ancaman masa depan pengrajin Yogyakarta.

“Dari Kamboja,” katanya.

“Sudah pernah ke Kamboja?”

“Sudah pak. Satu minggu di sana,” jawabnya.

—

Saya setuju dengan jawaban itu. Saya lihat Kamboja maju sekali. Bisa jadi the next Vietnam. Saya pernah melakukan perjalanan darat dari Kamboja ke Vietnam –untuk melihat denyut perkembangan ekonomi di kawasan itu. Belum semaju Indonesia tapi grafik kenaikannya sangat tinggi.

Dulu, di antara tiga negara Indochina hanya Vietnam yang orangnya pekerja keras. Laos dikenal paling malas. Kamboja di tengah-tengah kerja kerasnya Vietnam dan malasnya Laos. Ada pepatah yang selalu saya ingat untuk menggambarkan kategorisasi itu:

Orang Vietnam bekerja menanam padi; Orang Kamboja hanya melihat bagaimana orang Vietnam menanam padi; Orang Laos hanya mendengarkan cerita bagaimana padi itu tumbuh.

Johni itu ingin melihat sendiri calon-calon pesaingnya dari Kamboja. Agar bisa ambil keputusan antisipasi apa yang perlu disiapkan. Saya setuju dengannya: seperti ini tidak bisa minta bantuan AI.

Ada satu lagi eksporter: dia seorang wanita. Lily Widjaja. Dulunya eksekutif di perusahaan asing. Ketika orang tuanyi meninggal, dia harus pulang kampung ke Yogyakarta: meneruskan perusahaan eksporter minyak atsiri dan nilam. Nama perusahaannyi: CV Indaroma.

—

Dia minta perhatian pemerintah dua hal: kian sedikitnya pohon nilam dan banyaknya petani yang tidak memegang teguh etika dagang.

Di Yogyakarta kian sulit mendapat daun nilam untuk diproses jadi minyak atsiri –antara lain jadi bahan baku parfum. Dia harus mendatangkan dari Sulawesi dan bahkan dari Aceh. Biayanya bertambah.