Mesong adalah istilah di kalangan orang Tionghoa untuk melayat. Yang meninggal: ibunda teman baik saya –saya sedang di luar negeri saat ayahnya meninggal dua tahun lalu. Sang ayah juga sahabat yang saya kagumi: 10 tahun sebelum meninggal ia berani bagi warisan secara total. Di umurnya yang 80 tahun justru baru mulai panggil guru nyanyi untuk lagu-lagu seriosa. Sejak muda ia suka nyanyi lagu-lagu keroncong seperti Sepasang Mata Bola.

Di mesong itu saya tidak bisa segera pamit. Begitu banyak menu ala carte yang ditawarkan untuk disajikan. Sepuluh ruangan disewa untuk persemayaman jenazah –pertanda berapa banyak pelayat yang datang.

Salah satu pabriknya saja memproduksi per (pegas) mobil hampir untuk semua mobil yang dibuat di Indonesia. Rumahnya yang besar punya halaman belakang lapangan golf. Yang membuat saya tidak bisa cepat pamit adalah datangnya satu telepon ke salah satu anak almarhumah. Orang dari Bandung sedang menuju ke sini. Ingin sekali bisa bertemu. “Sudah dalam perjalanan dari bandara,” ujarnya.

Ia pengusaha garmen yang sukses. Karyawannya 15.000 orang. Ekspornya mendominasi omzetnya.

Begitu datang ia cepat-cepat sembahyang di depan peti jenazah. Lalu bergabung ke meja kami yang penuh makanan: soto kudus, tahu campur, sushi, rawon, es krim, es cendol, ronde, dan saya tidak hafal selebihnya.

Sambil melayat kami pun bicara soal keadaan ekonomi nasional. Termasuk ekspor garmen. Ternyata pabrik sebesar miliknya kini melayani pembeli eceran di luar negeri. Ini saya jadikan contoh hidup bagi pengusaha di Yogyakarta itu: jangan lagi terpaku pada cara lama.

Ekspor eceran yang dikembangkan pengusaha Bandung itu adalah jas. Ia melayani pembelian biar pun hanya satu jas. Yang pesan orang dari Jepang. Ia ekspor jas satu biji untuk satu pengiriman ke Jepang.

Kian hari order eceran seperti itu kian banyak. Saat mesong itu ia mengatakan ekspor ecerannya sudah mencapai 1.000 jas sebulan.

Maka saya minta pimpinan PT Pos Indonesia cabang utama Yogyakarta Bebi Ahmed Jo Pical untuk naik ke panggung. Saya minta ia diskusi dengan eksporter kerajinan itu mengenai teknis ekspor eceran. Apalagi kini Pos Indonesia sudah punya layanan seperti itu.