Menurut Fitch, peran utama BTN dalam pembiayaan perumahan menjadi salah satu faktor penting yang mendasari kuatnya dukungan pemerintah. Fitch menilai gangguan terhadap peran BTN berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap sektor perumahan dan kondisi sosial ekonomi.
“Posisi BTN sebagai pemimpin pasar KPR tentunya membawa tanggung jawab yang besar. Kami ingin memastikan bahwa skala bisnis yang semakin besar juga diikuti kemampuan yang semakin kuat untuk melayani kebutuhan pembiayaan perumahan masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah,” kata Ramon.
Selain mempertahankan National Long-Term Rating BTN pada AAA(idn), Fitch juga mempertahankan peringkat surat utang senior tanpa jaminan (senior unsecured debt) BTN pada AAA(idn) serta National Short-Term Rating pada F1+(idn).
Dalam skala pemeringkatan nasional Fitch, AAA(idn) merupakan peringkat tertinggi yang diberikan kepada emiten atau kewajiban dengan ekspektasi risiko gagal bayar paling rendah dibandingkan emiten atau kewajiban lainnya di Indonesia.
Sementara itu, F1+(idn) menunjukkan kapasitas terkuat untuk memenuhi kewajiban keuangan secara tepat waktu dibandingkan emiten atau kewajiban lainnya di Indonesia. Tanda “+” diberikan ketika profil likuiditas dinilai sangat kuat.
Pencapaian tersebut sekaligus melanjutkan tren positif rating BTN dalam tiga tahun terakhir. Setelah berada pada peringkat AA+ pada 2024, rating BTN meningkat menjadi AAA pada 2025 dan kembali dipertahankan pada level tertinggi dengan Outlook Stable pada 2026.
Perkuat Diversifikasi Pendanaan
Ramon mengatakan, rating tertinggi tersebut juga penting bagi BTN dalam menjaga kepercayaan pasar dan memperluas sumber pendanaan untuk mendukung pertumbuhan bisnis Perseroan.
Hingga September 2026, posisi wholesale funding BTN tercatat sebesar Rp52,29 triliun, meningkat dibandingkan posisi Januari 2026 sebesar Rp40,74 triliun.
BTN juga kembali memperkuat sumber pendanaan melalui penerbitan Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Bank BTN Tahap II Tahun 2026 senilai Rp2 triliun.