Setidaknya pula ITB boleh bangga: pernah satu kali alumnusnya menjabat menteri keuangan. Tidak dari Universitas Indonesia melulu.
Mulai kemarin kursi menteri keuangan itu kembali ke UI: Presiden Prabowo melantik Prof Suahasil Nazara, alumnus UI, sebagai menteri keuangan yang baru. Teman-temannya memanggilnya Prof Sua: asli Nias. SMA-nya di Pangudi Luhur, Jakarta –satu sekolahan dengan mantan Menkeu-Gubernur BI Agus Martowardojo dan CEO Danantara sekarang ini: Rosan Roeslani. Dan yang paling senior Prof Satryo Soemantri Brodjonegoro, mantan menteri pendidikan tinggi, sains, dan teknologi.
Mungkin era gegap gempita di Kemenkeu ikut berakhir. Prof Sua adalah anak buah andalan Menkeu Sri Mulyani yang tidak banyak cakap. Mungkin juga, karena pernah dekat dengan Sri Mulyani, Prof Sua kurang terlihat di mata Purbaya. Meski Pror Sua saat itu wamenkeu kepercayaan Purbaya lebih pada wamenkeu satunya: Juda Agung.
Prof Sua boleh dikata seorang teknokrat murni. Tidak terlihat arah politiknya ke mana. “Saat saya aktif di Dewan Ekonomi Nasional, Prof Sua adalah tim ”Dapur DEN” yang andal,” ujar Prof Dr Didik J. Rachbini, rektor Universitas Paramadina. Itu di era kepresidenan SBY periode kedua yang ketua DEN-nya pengusaha besar Chairul Tanjung. “Beliau juga pernah menjabat di bidang fiskal tapi keahlian beliau yang terutama adalah ahli pengentasan kemiskinan. Itu dekat juga dengan fiskal,” ujar Prof Rachbini.
Prof Sua, menurut sumber Disway, sebenarnya tidak ingin jadi menteri. Dan itu wajar. Menjabat menkeu saat ini apa enaknya. Beban bayar bunga saja Rp 600 triliun setahun. Subsidi energinya bisa Rp600 triliun juga. Belum lagi bagaimana bisa ”melayani” keinginan Presiden Prabowo yang serbabesar dan serbacepat.
“Yang diperlukan saat ini bukan hanya teknokrat. Tapi teknokrat-politisi,” ujar Prof Rachbini. Yakni teknokrat yang teguh dengan prinsip keteknokratannya tapi lentur dalam menyikapi keinginan politisi (baca: presiden).
“Lentur” yang dimaksud adalah mampu meyakinkan atasannya untuk disiplin fiskal tapi tidak terlihat menolak, melawan atau menggurui. Ibarat “iya, iya, tapi tidak iya”. ‘Tidak iya’-nya itu harus tanpa terasa ”tidak iya”.