Maka Purbaya punya resep ampuh untuk memuaskan ambisi Presiden Prabowo yang menginginkan pertumbuhan ekonomi sampai delapan persen. Semua ahli pesimistis dengan keinginan itu –kecuali Purbaya.

Maka siapa yang tidak terpikat oleh teori Purbaya yang ia serap dari gurunya, seorang profesor ekonomi dari Purdue University, Indiana: John A. Carlson itu.

Purbaya tidak hanya bicara teori. Ia juga memaparkan data masa lalu, pun data pengalaman di Amerika.

Purbaya seorang peneliti ekonomi. Ibarat seorang dokter ia ahli patologi yang hidupnya di lab penyakit. Ia bukan seorang dokter klinis yang tiap hari menangani pasien.

Maka Purbaya bergegas melaksanakan teori ”gelontor uang” ke pasar. Bank-bank ia tekan habis. Uang harus deras mengalir ke masyarakat.

Purbaya sangat jeli mengintip slempitan-slempitan di mana saja ada uang disimpan. Termasuk slempitan-nya Bank Indonesia.

Ia ambil uang-uang itu. Ia paksa salurkan ke bank pelaksana. Ia tidak peduli mana uang mati dan mana uang cadangan. Pokoknya uang harus beredar.

Hasilnya: mengecewakan. Pertumbuhan ekonomi memang sempat 5,6 persen (kuartal pertama 2026) tapi kemudian turun lagi jadi 5,3 persen (kuartal kedua).

Padahal ia sangat optimistis tahun 2026 ekonomi bisa tumbuh 6 persen, lalu tahun 2027 bisa 7 persen dan di tahun terakhir kepresidenan Prabowo bisa seperti yang diambisikan: 8 persen. Melihat perjalanan tahun 2026 angka-angka itu kian seperti fatamorgana.

Presiden Prabowo kehilangan waktu lagi satu tahun untuk mengejar target-targetnya. Tapi setidaknya kita pernah berjudi dengan teori ”gelontor uang”-nya.

Orang juga masih akan mengenang Purbaya sebagai yang sangat serius melakukan de-bottle necking untuk macetnya persoalan-persoalan riil di masyarakat akibat birokrasi yang ruwet.

Saya belum tahu akan ke mana Purbaya setelah ini. Yang jelas harus memperhatikan kesehatannya –agar kalau ada kesempatan lagi kelak gula darahnya bisa diajak kerja keras lagi. Kesempatan Purbaya bisa jadi apa saja pernah terbuka lebar: angka popularitasnya sempat mengejar Kang Dedi Mulyadi, gubernur Jabar.