Gus Rozin juga inklusif. Juga tidak ambisius –awalnya. Gus Rozin (Abdul Ghaffar Rozin) maju karena terpanggil sebagai memimpin NU yang netral. Yakni yang tidak terlibat konflik besar antara rais aam syuriah (KH Miftakhul Akhyar) dan ketua umum Tanfidziyah (Gus Yahya).

Gus Rozin adalah lulusan Monash University, Australia setelah kuliah di Paramadina. Ia juga pernah mondok di pesantren Kwagean, Kediri setelah lulus ibtidaiah sampai aliyah di Kajen. Doktornya dari UIN Walisongo, Semarang. Ia juga pernah mendalami filsafat di lembaga Katolik Driyakarya.

Semua berdarah biru yang inklusif. Itulah wajah baru kepemimpinan NU di tingkat pusat. Apakah tiga-tiganya jadi maju tentu akan bisa dilihat tanggal 29 Agustus. Tanggal itu acara-acara awal muktamar sudah selesai. Pendaftaran calon pun dibuka. Bisa mendaftar sendiri juga bisa didaftarkan.

Yang lebih krusial kelihatannya justru di level kepengurusan dewan syuriah –berkedudukan lebih tinggi daripada kepengurusan eksekutif tanfidziyah.

Pemilihan rais aam (ketua) dewan syuriah tidak lagi lewat pemungutan suara di lantai muktamar. Rais Aam dipilih oleh ”majelis kiai se Indonesia” secara tertutup. Istilahnya Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA). Masing-masing dewan syuriah NU di cabang (tingkat kabupaten/kota) dan di wilayah (tingkat provinsi) mengajukan sembilan nama. Berarti akan terkumpul ratusan nama. Yang namanya ditulis terbanyak otomatis sebagai rais aam. Delapan lainnya jadi anggota dewan syuriah.

Selama ini tiga nama kiai besar yang muncul ke permukaan: incumbent KH Miftakhul Akhyar, Surabaya; KH Said Agil Siroj (mantan ketua umum tanfidziyah); dan KH Ma’ruf Amin, mantan wakil presiden RI.

Secara teori, cara pemilihan seperti itu sangat bagus. Bisa menghindarkan politik uang. Tapi tidak sepenuhnya begitu. Belakangan ini syuriah di daerah-daerah dikumpulkan oleh kekuatan tertentu: diarahkan untuk memilih siapa. Lalu ditinggali amplop –yang penting isi amplop itu.

Bahkan dari rekaman pembicaraan telepon yang sampai ke saya terdengar ”mainnya” agak kasar. Blangko pencalonan yang sudah diisi nama calon dibagikan. Untuk dimintakan tanda tangan. Lalu ada kesulitan: mereka tidak membawa stempel. Malam itu juga dibikinkan stempel.