Tapi di kekalahan Mesir sekarang ini otoritas wasit tidak lagi semutlak dulu: wasit bisa mengecek satu kejadian yang syubhat di sistem VAR. Apalagi ini babak menjelang puncak Piala Dunia. Babak yang kian sensitif. Dan anehnya wasit pilih mengabaikan VAR! Kenapa sih –demi menjaga marwah Piala Dunia– wasit tidak melakukan itu?
“Mesir telah dirampok”.
Mamdani mengucapkan itu sebagai pejuang keadilan. Mamdani sebenarnya sedang berpidato peresmian perluasan layanan bus kota.
“Dengan rute baru ini warga New York bisa lebih banyak punya waktu. Termasuk untuk membicarakan bagaimana Mesir telah dirampok,” katanya.
Langsung saja kata-kata yang sebenarnya hanya bagian sangat kecil dari pidato itu menyebar ke seluruh dunia: Mamdani mengatakan Mesir telah dirampok.
Mamdani memang suka sepak bola. Bahkan ia pernah menonton Piala Dunia saat perhelatan itu dilaksanakan di Afrika Selatan. Mungkin sambil napak tilas. Ia masih bisa menyanyikan lagu Waka Waka yang top di Piala Dunia Afrika Selatan; dan sesudahnya.
Mamdani menyanyikan Waka Waka lagi saat promosi Piala Dunia yang finalnya di stadion New York New Jersey. Bisa saja ia tidak mau nonton di stadion mana kala yang masuk final adalah Argentina.
Mamdani lahir di Kampala, ibu kota Uganda. Ayahnya terusir ke sana. Keluarga Mamdani adalah keluarga Muslim aliran sy’iah. Di Kampala mereka terusir lagi: pilih ke Afrika Selatan. Lalu berimigrasi ke Amerika.
“Mesir telah dirampok”.
Kalau saja ada jajak pendapat di New York kata-kata itu terbukti dapat dukungan luas. Mamdani sudah seperti sihir. Bahkan serangannya kepada Netanyahu pun ternyata ”laku”. Bukan hanya di kalangan yang pro-Palestina, bahkan di kalangan Yahudi New York sendiri.
Pekan lalu ada jajak pendapat soal Netanyahu di sana. Khusus di kalangan masyarakat Yahudi hasilnya unik: 30 persen setuju dengan pendapat Mamdani. Yang tidak setuju 20 persen. Selebihnya menyatakan: tidak cukup punya pengetahuan untuk memberikan penilaian.
Mamdani ternyata dapat dukungan luas pun di kalangan Yahudi New York.