Finnews.id – Lifestyle Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube tidak lagi hanya dilihat sebagai sarana hiburan atau edukasi, melainkan sebagai ekosistem digital yang menyimpan potensi risiko psikologis yang masif.
Dunia digital hari ini bukan lagi sekedar tempat bermain virtual yang ramah.
Di balik layar smartphone yang berkilau, algoritma kompleks yang dirancang untuk terus mengikat perhatian penggunanya, termasuk anak-anak.
Beruntung, sebuah gelombang kesadaran baru kini tengah melanda orang tua di seluruh dunia.
Masyarakat mulai sadar bahwa membiarkan anak “diasuh” oleh algoritma media sosial adalah sebuah kekeliruan besar.
Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi menilai survei Poltracking yang menunjukkan 77,4 persen masyarakat menyetujui aturan pembatasan media sosial (medsos) bagi anak di bawah 16 tahun mencerminkan meningkatnya kesadaran publik terhadap dampak media sosial terhadap anak-anak.
“Tingginya dukungan masyarakat menunjukkan adanya kekhawatiran yang semakin besar terhadap dampak negatif media sosial bagi anak, mulai dari paparan konten berbahaya, perundungan siber, kecanduan digital, hingga ancaman eksploitasi online,” kata Heru saat pada media, Jumat(5/6).
Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute itu memaparkan, pihaknya telah lebih dulu melakukan survei serupa. Hasilnya bahkan lebih kuat lagi di mana 80 persen masyarakat setuju bahwa ruang digital tidak selalu aman bagi anak.
Belakangan ini, diskusi mengenai kesehatan mental anak yang menghabiskan durasi menatap layar ( screen time ) semakin gencar disuarakan. Berbagai platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube tidak lagi hanya dilihat sebagai sarana hiburan atau edukasi, melainkan sebagai ekosistem digital yang menyimpan potensi risiko psikologis yang masif.
Mengapa Publik Mulai Resah?
Kesadaran kolektif ini tidak muncul tanpa alasan. Ada beberapa faktor penting yang membuat para orang tua kini mulai memperketat aturan penggunaan gadget di rumah:
- Ancaman Gangguan Mental Nyata: Paparan standar kecantikan, pamer kemewahan, dan budaya perundungan siber ( cyberbullying ) memicu kecemasan tinggi, depresi, hingga krisis krisis identitas pada anak dan remaja.
- Kecanduan Dopamin Digital: Fitur scrolling tanpa batas ( infinite scroll ) dirancang untuk memanipulasi hormon dopamin, membuat anak sulit fokus pada dunia nyata dan mengganggu pola tidur mereka.
- Ancaman Keamanan Siber: Kasus penipuan, manipulasi daring ( online grooming ), hingga paparan konten dewasa yang tidak sengaja tersaring menjadi momok menakutkan bagi stabilitas emosi anak.
Dari Pengamatannya, masyarakat kini menilai perlindungan anak di ruang digital sudah menjadi kebutuhan mendesak dan memerlukan intervensi kebijakan yang lebih tegas.