Sepasang sumur tua hanya saya lihat sesapuan. Pun pohon sejuta umat. Tapi saya sampai tertidur pulas di keteduhan Kebun Raya Kenari Tua ini.
Satu lagi yang saya temui di Banda Besar: anak-anak. Mereka berlarian di halaman sekolah. Mereka tetap sekolah di hari Sabtu. Sepulang sekolah mereka bergerombol di depan satu toko kecil. Ada yang duduk ada yang berdiri. Saya hampiri mereka: lagi ramai-ramai makan semacam rujak dari satu piring yang sama.
Ternyata bukan rujak. Itu bakasang. Semacam saus untuk kelengkapan makan daging pala mentah. Waktu saya menghampiri mereka yang tersisa tinggal sausnya. Lalu tiga anak berlari menjauh. “Ke mana mereka?” tanya saya. “Cari buah pala,” jawab yang tertinggal.
Mereka lari masuk kebun. Tak lama kemudian mereka kembali membawa banyak buah pala warna kekuningan –pertanda sudah cukup tua.
Mereka pun kembali bergerombol di sekitar piring saus. Buah pala diiris-iris. Irisan itu didulitkan ke saus. Dimakan. Saya minta ijin ikut mencobanya: enak. Mirip rujak tapi bukan rujak. Saya hanya mencicipi tiga iris. Terlalu pedas.
Saus seperti itu hanya ada di Banda. Dijual di toko-toko lokal. Itulah saus yang terbuat dari ikan mentah, jenis cakalang, yang dicampur garam lalu diberi sedikit air. Ketika akan dimakan boleh ditambah sendiri dengan chili –orang setempat menyebut cabe dengan chili.
Inilah kali pertama saya tahu camilan bakasang. Ikan mentah. Merasakannya pula. (Dahlan Iskan)