Pasar khawatir situasi tersebut dapat mengganggu stabilitas distribusi energi global, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dan gas dunia.

Kekhawatiran terhadap kelangsungan gencatan senjata antara AS dan Iran juga membuat harapan pembukaan penuh jalur distribusi energi di Selat Hormuz mulai memudar.

Kondisi itu berdampak langsung pada pasar biodiesel. Saat harga minyak mentah naik, CPO menjadi lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel karena memiliki nilai ekonomis yang kompetitif.

Faktor inilah yang membantu menahan tekanan lebih dalam terhadap harga minyak sawit Malaysia.

Ringgit Melemah, Harga CPO Jadi Lebih Kompetitif

Dari sisi mata uang, pelemahan ringgit Malaysia turut memberikan dukungan terhadap pasar CPO.

Ringgit tercatat melemah 0,18% terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat harga minyak sawit Malaysia menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Pelemahan mata uang biasanya membantu meningkatkan daya tarik ekspor karena harga produk menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.

Meski begitu, pasar masih menunggu sinyal baru terkait permintaan global dan perkembangan ekonomi dunia sebelum kembali mendorong harga naik lebih tinggi.

Ekspor Kedelai Brasil Pecah Rekor

Tekanan tambahan terhadap pasar minyak nabati juga datang dari Brasil. Pemerintah Brasil melaporkan ekspor kedelai negara tersebut mencapai rekor bulanan baru pada April 2026.

Total ekspor kedelai Brasil tercatat mencapai 16,75 juta ton atau naik 9,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan pasokan kedelai global berpotensi memengaruhi keseimbangan pasar minyak nabati karena kedelai menjadi salah satu bahan utama produksi minyak nabati pesaing CPO.

Jika pasokan kedelai terus meningkat, tekanan terhadap harga minyak sawit global bisa bertambah besar dalam beberapa waktu ke depan.

Analis Prediksi CPO Berpotensi Rebound

Di tengah tekanan pasar, analis teknikal Reuters Wang Tao melihat peluang rebound pada harga CPO.