Ada beberapa faktor krusial yang mendorong kenaikan harga minyak dunia secara drastis pada tahun 2026:
Ketegangan Geopolitik: Konflik di beberapa wilayah produsen minyak utama dunia belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hal ini mengganggu rantai pasok global dan memicu spekulasi pasar yang liar.
Nilai Tukar Rupiah: Fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar AS turut memengaruhi biaya pengadaan minyak mentah yang sebagian besar masih berasal dari impor.
Margin Perusahaan: Pertamina melakukan penyesuaian harga agar beban kas perusahaan tidak semakin berat akibat menanggung selisih harga pasar global yang terlalu jauh.
Laporan resmi pemerintah menyebutkan bahwa ketidakpastian pasar global memaksa penyedia jasa energi di dalam negeri untuk bertindak adaptif. Jika harga tidak segera mengikuti mekanisme pasar, keberlangsungan distribusi BBM ke pelosok negeri bisa terancam.
Nasib BBM Subsidi: Pertalite dan Solar
Meski harga BBM nonsubsidi “terbang” tinggi, masyarakat menengah ke bawah sedikit bisa bernapas lega. Pemerintah memutuskan untuk tetap mempertahankan harga Pertalite (RON 90) dan Solar subsidi di level yang sama dengan bulan-bulan sebelumnya.
Pemerintah terus menyuntikkan subsidi besar-besaran guna menjaga daya beli masyarakat dan menekan laju inflasi. Namun, langkah ini bukan tanpa risiko. Banyak analis ekonomi memperingatkan bahwa beban APBN kini kian menghantui seiring dengan membengkaknya nilai kompensasi energi yang harus dibayar pemerintah kepada Pertamina.
Hingga saat ini, pengawasan di SPBU terus diperketat guna memastikan BBM subsidi tepat sasaran. Warga yang menggunakan kendaraan mewah tetap diimbau untuk menggunakan BBM nonsubsidi seperti Pertamax series atau Dex series guna membantu mengurangi beban negara.
Pertamina juga menyarankan masyarakat untuk selalu memantau aplikasi MyPertamina guna mendapatkan pembaruan harga secara real-time, mengingat kondisi pasar global yang bisa berubah sewaktu-waktu.