Barclays juga memperkirakan Federal Reserve tidak akan melonggarkan kebijakan moneternya sepanjang tahun ini. Pekan lalu, bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga dalam keputusan yang disebut paling terbelah sejak 1992.
Lingkungan suku bunga tinggi membuat emas kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil, berbeda dengan instrumen keuangan lain.
Pasar Tunggu Data Ekonomi AS
Pelaku pasar kini fokus menanti sejumlah data penting dari Amerika Serikat. Data tersebut meliputi lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, hingga payroll nonpertanian untuk periode April.
Data ini akan menjadi penentu arah kebijakan moneter selanjutnya sekaligus memengaruhi pergerakan harga emas dalam jangka pendek.
Logam Mulia Lain Ikut Terseret
Penurunan tidak hanya terjadi pada emas. Logam mulia lainnya juga mengalami tekanan cukup dalam.
Harga perak turun 3,2 persen menjadi USD72,95 per ons. Platinum melemah 1,7 persen ke level USD1.955,95, sementara paladium merosot 2,9 persen menjadi USD1.481.
Tekanan serentak ini menunjukkan bahwa sentimen negatif tidak hanya menyasar emas, tetapi seluruh sektor logam mulia.
Level Support Jadi Perhatian Investor
Analis melihat level USD4.200 sebagai batas bawah penting bagi harga emas. Jika tekanan berlanjut, level ini bisa menjadi titik uji berikutnya.
Namun, dalam jangka panjang, sejumlah faktor masih berpotensi menopang harga. Meski begitu, dalam waktu dekat, ketidakpastian geopolitik dan potensi kenaikan suku bunga tetap menjadi risiko utama.
Kondisi ini membuat banyak trader memilih keluar dari posisi mereka untuk sementara waktu sambil menunggu arah pasar yang lebih jelas. (*)