Saya lama berdiri di teras: menikmati keindahan dan kemegahannya. Lalu masuk ke ruang pertama. Itulah ruang ketika para tamu diterima presiden.
Ruang ini elegan. Kayu-kayu tiangnya kayu terbaik Kalimantan: bengkirai warna hitam. Bengkirai tua. Hiasan lampunya dari Boyolali.
Dari keseluruhan bahan hanya marmer untuk lantai yang diimpor. Indah sekali. Pantulan lampunya pun bisa terlihat di lantai. Marmer selebihnya dari dalam negeri.
Di belakangnya lagi ada koridor tapi lebarnya seperti ruangan yang memanjang ke kanan-kiri. Di belakang koridor inilah ruang besar: bisa untuk sidang kabinet paripurna, jamuan makan, resepsi kenegaraan dan sejenisnya. Desain interiornya, terutama langit-langitnya, mirip ruangan di keraton Jawa.
Di sisi kanan ada sebuah piano kecil. Ada penutupnya. “Itu piano milik Ibu Iriana,” ujar petugas di situ. “Dibawa ke sini untuk acara ulang tahun beliau ketika itu,” tambahnya.
Hanya sampai di situ kami boleh melihat. Selebihnya harus ada izin yang lebih khusus. Saya juga harus melihat satu lagi: bandara IKN. Lalu ke kampung istri untuk beridulfitri
Ups…lupa. Belum makan siang. Maka saya ke satu-satunya hotel bintang lima di IKN: Swissôtel Nusantara. Ada sop buntut, iga bakar, udang mayones pedas. Itu pilihan kami.(Dahlan Iskan)