Guncangan Harga Bahan Bakar Memukul Maskapai Penerbangan
Hampir semua maskapai penerbangan global saat ini sedang berjuang menghadapi lonjakan harga bahan bakar jet sejak serangan AS-Israel di Iran mengganggu lalu lintas melalui Selat Hormuz.
Hal ini memicu krisis terburuk bagi industri perjalanan udara sejak pandemi COVID-19. Bahkan, Spirit sendiri sudah kesulitan meraih keuntungan sebelum guncangan bahan bakar ini terjadi.
Selama ini, Spirit membangun mereknya di sekitar tarif terjangkau bagi para pelancong yang hemat dan siap menghindari biaya tambahan seperti bagasi terdaftar atau pemilihan tempat duduk.
Namun, permintaan tersebut terus menurun setelah pandemi karena penumpang kini lebih memilih perjalanan yang nyaman dan berbasis pengalaman. Perubahan perilaku konsumen inilah yang membuat maskapai berbiaya sangat rendah kesulitan beradaptasi.
Dampak Penutupan dan Respons Maskapai Pesaing
Berhentinya operasional Spirit tentu menjadi angin segar dan akan menguntungkan para kompetitornya seperti JetBlue Airways dan Frontier Airlines, yang sebelumnya juga terkena guncangan kenaikan biaya. Pada hari Jumat, saham Spirit yang fluktuatif di pasar over-the-counter langsung anjlok 25 persen, sedangkan Frontier naik 10 persen dan JetBlue melonjak 4 persen.
Sebagai respons cepat untuk mengisi kekosongan pasar yang ditinggalkan Spirit, beberapa maskapai kompetitor langsung mengambil langkah strategis:
-
JetBlue Airways: Memperluas layanannya dari Fort Lauderdale—yang merupakan salah satu pasar utama Spirit—dengan membuka 11 kota baru dan menambah frekuensi penerbangan pada rute yang sudah ada. JetBlue juga menawarkan tarif penyelamatan sebesar US$99 hingga Rabu.
-
Frontier Airlines: Mengumumkan diskon di seluruh sistem dan berencana menambah berbagai rute baru untuk musim panas.
-
Southwest, United, dan American Airlines: Memperkenalkan tarif khusus dan membatasi harga tiket sekali jalan (one-way) guna membantu para penumpang yang terkena dampak pembatalan.
Sebelum keputusan penutupan ini keluar, Presiden Donald Trump sempat menyatakan pada hari Jumat bahwa Gedung Putih telah memberikan proposal penyelamatan terakhir kepada Spirit dan para krediturnya. Hal ini terjadi setelah pembicaraan menemui jalan buntu terkait paket pembiayaan US$500 juta.