Home Emas Harga Emas Naik 1,7 Persen! Dolar AS Melemah, Tapi Sinyal Bahaya Masih Mengintai
Emas

Harga Emas Naik 1,7 Persen! Dolar AS Melemah, Tapi Sinyal Bahaya Masih Mengintai

Bagikan
Harga emas naik saat dolar melemah, namun tren bulanan masih turun. Inflasi dan suku bunga jadi penekan utama.
Emas Batangan
Bagikan

finnews.id – Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya di tengah tekanan pasar global. Kenaikan ini terjadi saat dolar AS melemah dan harga minyak mulai turun. Namun, di balik penguatan tersebut, tren bulanan justru masih mencatatkan pelemahan.

Emas Menguat, Tapi Masih Tertekan Secara Bulanan

Pada perdagangan Kamis, harga emas spot melonjak 1,7 persen ke level USD4.618,67 per ons. Sebelumnya, emas sempat menyentuh titik terendah dalam satu bulan pada sesi Rabu. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Juni ditutup naik 1,5 persen menjadi USD4.629,60 per ons.

Kenaikan ini terjadi di tengah kombinasi pelemahan dolar AS dan turunnya harga minyak dunia. Kondisi tersebut membuat emas lebih terjangkau bagi investor global dan mendorong minat beli dalam jangka pendek.

Pelemahan Dolar Jadi Pemicu Utama

Dolar AS mengalami tekanan setelah Jepang melakukan intervensi untuk memperkuat yen. Langkah ini menjadi yang pertama dalam hampir dua tahun terakhir dan langsung berdampak pada pasar global. Ketika dolar melemah, harga komoditas seperti emas cenderung naik karena menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

Di sisi lain, harga minyak yang sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun mulai turun. Penurunan ini meredakan kekhawatiran inflasi, meski risiko tetap ada.

Inflasi dan Suku Bunga Masih Jadi Bayang-bayang

Meski harga emas naik, tekanan dari inflasi dan kebijakan suku bunga masih membatasi pergerakan. Data menunjukkan indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat naik 0,7 persen pada Maret, menjadi kenaikan tertinggi sejak Juni 2022.

The Fed memilih menahan suku bunga, tetapi tetap mengingatkan soal tekanan inflasi yang meningkat. Sikap serupa juga diambil Bank of England yang membuka peluang kenaikan suku bunga lebih agresif akibat dampak konflik Iran.

Kondisi ini membuat emas kehilangan sebagian daya tariknya. Saat suku bunga tinggi, investor cenderung beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih pasti.

Prospek Emas: Jangka Pendek Tertekan, Jangka Panjang Menarik

Secara bulanan, harga emas tercatat turun lebih dari 1 persen sepanjang April. Ini menjadi penurunan kedua secara berturut-turut.

Bagikan
Artikel Terkait
Emas

Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri24 di Pegadaian Kompak Anjlok per 30 April 2026

finnews.id – Kabar kurang sedap menghampiri para investor logam mulia pada pengujung...

Harga emas stabil di tengah konflik Iran dan lonjakan minyak. Pasar kini menunggu sinyal Jerome Powell yang bisa menentukan arah berikutnya.
Emas

Harga Emas Tahan di Level Tinggi, Pasar Menahan Napas Tunggu Sinyal Powell dan Memanasnya Konflik Iran

finnews.id — Pasar global kembali berada di persimpangan. Harga emas bergerak stabil...

Emas

Harga Emas Hari Ini: Antam Melonjak, UBS dan Galeri24 Justru Kompak Melemah

finnews.id – Dinamika pasar logam mulia di Indonesia kembali menunjukkan pergerakan yang...

Emas

Harga Emas Antam Selasa 28 April Naik ke Rp2.814.000 per Gram

finnews.id – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menunjukkan...