Home Market Morning News Summary 30 April 2026: Wall Street Lesu, Minyak Meledak, Saham Teknologi Jadi Penyelamat
Market

Morning News Summary 30 April 2026: Wall Street Lesu, Minyak Meledak, Saham Teknologi Jadi Penyelamat

Bagikan
Morning News Summary 30 April 2026: Wall Street datar, minyak tembus USD120, dan IHSG tertekan sentimen global.
Ilustrasi - Pergerakan saham (Pexels - Romulo Queiroz)
Bagikan

Secara teknikal, level support IHSG berada di kisaran 6.900. Jika indeks menembus level tersebut, pasar berpotensi mencetak titik terendah baru tahun ini sekaligus mengonfirmasi tren bearish yang lebih dalam.

Sektor Batubara Berpotensi Diuntungkan

Kenaikan harga minyak global mendorong permintaan energi alternatif, termasuk batubara. Situasi ini diperparah dengan outlook El Nino yang meningkatkan suhu di kawasan Asia.

Cuaca panas memicu lonjakan penggunaan pendingin udara, sehingga kebutuhan listrik meningkat. Kondisi ini memaksa pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) meningkatkan konsumsi batubara.

Beberapa emiten seperti AADI, INDY, dan ITMG dinilai bisa menjadi pilihan taktis untuk memanfaatkan momentum ini.

Kinerja Emiten Jadi Penopang Sentimen

ANTM Catat Lonjakan Laba Signifikan

ANTM membukukan laba bersih Rp3,4 triliun atau naik 60% secara tahunan. Kinerja ini melampaui ekspektasi analis.

Pendorong utama datang dari lonjakan volume penjualan emas hingga 161% secara kuartalan serta kenaikan harga jual bijih nikel. Margin laba juga ikut terdongkrak, menjadikan valuasi saham masih menarik.

BBNI Tumbuh Stabil dengan Kualitas Aset Terjaga

BBNI mencatat laba bersih Rp5,7 triliun, naik 5% secara tahunan. Pertumbuhan kredit mencapai 20%, sementara dana pihak ketiga melonjak 34%.

Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah stabil di 1,9%. Valuasi saham dinilai masih menarik di tengah kinerja yang solid.

ASII Tertekan, Margin Melemah

ASII mencatat penurunan laba bersih inti sebesar 15% secara tahunan. Tekanan datang dari pelemahan margin bisnis otomotif serta beban satu kali di sektor alat berat.

Meski beberapa segmen masih tumbuh, pasar tetap berhati-hati terhadap risiko ke depan.

HMSP Hadapi Tekanan Margin

HMSP mencatat pertumbuhan laba 7,2%, namun hasil ini di bawah ekspektasi. Pendapatan turun 5,5% akibat penurunan volume dan perubahan pola konsumsi ke produk lebih murah.

ISAT Tunjukkan Kinerja Solid

ISAT membukukan EBITDA Rp7,2 triliun dan laba bersih Rp1,5 triliun. Pertumbuhan ini didorong lonjakan konsumsi data hingga 25,1%.

Bagikan
Artikel Terkait
Saham BBRI turun 16% YTD, BRI tegaskan penyebabnya faktor global, bukan fundamental perusahaan.
Market

Saham BBRI Anjlok 16% YTD, BRI Buka Suara: Bukan Karena Kinerja, Ini Biang Keroknya!

Menurut Hery, kebijakan ini menjadi bukti komitmen perusahaan dalam memberikan nilai tambah...

Holding ultra mikro BRI dorong lonjakan laba dan inklusi keuangan lewat sinergi Pegadaian dan PNM.
Market

Strategi Ultra Mikro BRI Meledak! Pegadaian dan PNM Jadi Mesin Laba Baru

Tak berhenti di situ, BRI juga ikut membiayai sekitar 3 juta rumah...

BRI catat laba Rp15,63 triliun di awal 2026, didorong kredit tumbuh dan pendapatan bunga yang tetap kuat.
Market

Laba BBRI Melonjak! Tembus Rp15,63 Triliun di Awal 2026, Ini Strategi di Baliknya

Direktur Utama BRI menegaskan bahwa kinerja ini tidak lepas dari disiplin perusahaan...

Market

Pemerintah Batasi Impor 6 Komoditas Ini, Demi Lindungi Petani Lokal

finnews.id – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) resmi mengeluarkan aturan baru terkait pembatasan...